Radar Bali

Cerita Markadi dan Ngurah Rai Bawa Senjata dari Jawa

RadarBali.com - Dari sekian banyak veteran pejuang, Wayan Kamer merupakan salah satu pejuang atau mungkin satu-satunya pejuang yang masih segar. Ingatannya masih kuat. Sehingga banyak veteran yang datang mengunjunginya untuk berbagi kisah perjuangan. Benarkah?

DI tengah cerita saat berperang melawan para penjajah Jepang dan Belanda, Wayan Kamer berdiri dan memekikkan semangat perjuangan seperti yang sering diteriakkan saat berperang melawan penjajah. ”Merdeka!...,” pekik Kamer dengan suara lantang dan berdiri tegak dengan tangan terkepal.

Memorinya tentang perang, luar biasa. Buktinya, desingan peluru, mayat para pejuang, sampai saat ini selalu terngiang dalam ingatannya. Dari sekian banyak perang melawan penjajah yang diikuti, perang melawan Jepang, meski menjajah paling sebentar sebagai perang yang paling membekas diingatannya.

Karena waktu itu, Jepang menerapkan kerja rodi pada pribumi. Selain itu, hasil tani diambil paksa dan dibawa para penjajah Jepang. Perlakuan para penjajah Jepang juga sangat sadis. Bahkan, lebih sadis daripara penjajah lain. ”Kalau paling lama dan sering, perang melawan Belanda,” jelasnya.

Salah satu kisah yang diceritakan saat dijajah Jepang, para petani pribumi dipaksa mengumpulkan hasil bumi untuk dibawa ke Denpasar. Sedangkan petani tidak diberikan hasil pertanian yang mereka peroleh dengan keringat mereka sendiri.

Sehingga, mulailah banyak perlawanan dari pribumi dan pemuda waktu itu. ”Saya juga sempat mengantar barang hasil tani ke Denpasar. Waktu itu, di bawah pengawalan tentara Jepang,” kenangnya.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar