Senin, 23 Sep 2019
radarbali
icon featured
Zetizen Radar Bali

Screening Rasa Nostalgia Bareng Liew Seng Tat

09 Oktober 2017, 22: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

Minikino Film Week, Liew Seng Tat

HUMOR ABSURD: Penonton menikmati film-film lama Liew Seng Tat yang memiliki nuansa humanisme dengan sentuhan humor absurd. (Istimewa)

Share this      

RadarBali.com - Selang satu hari sejak opening event 3rd Minikino Film Week (MFW), Minggu (8/10) lalu Microcinema dan Pop-Up Cinema yang tersebar di seluruh penjuru Bali mulai ‘hidup’.

Tidak terkecuali Microcinema Kampus Akubank di Jalan Dewi Madri III No. 12, Denpasar. Setelah menayangkan program Tangible Dreams dan Teen Program sejak pukul 15.30 Wita, terakhir mereka memutar program Made In Malaysia: Liew Seng Tat pukul 18.00 Wita.

Tapi, sebagai penutup untuk screening hari itu di Microcinema Kampus Akubank, tentu harus ada hal yang membuatnya menjadi istimewa.

That’s right. Sang filmmaker, yakni Liew Seng Tat, turut hadir dalam screening program hasil produksinya sendiri.

Seng Tat pun tidak datang sendiri. Ada Tang Kang Sheng, filmmaker asal Singapore dan Trevor Zhou asal USA yang juga menyempatkan diri untuk hadir dan ikut menonton program tersebut bersama para penonton lain.

Sebuah kesempatan yang cukup langka untuk bisa mengumpulkan tiga filmmaker internasional ternama dalam satu momen.

Tidak sampai di situ saja. Ada hal lain lagi yang membuat screening  sore itu terasa makin istimewa.

Berbeda dengan program lain di 3rd MFW berisi film-film pendek hasil produksi tahun 2010 keatas, Made In Malaysia: Liew Seng Tat ini justru menayangkan film-film pendek lama Seng Tat hasil produksi tahun 2010 ke bawah.

Di antaranya ada Bread Skin with Strawberry Jam (2003), Not Cool (2004), Daughters (2007), Flower (2005), dan Man in Love (2006).

Film-film Seng Tat cukup terkenal dengan nuansa humanisme dan sentuhan humor absurd. Maka tidak heran jika sepanjang screening sering terdengar tawa renyah dari para penonton.

Meski yang diputar adalah film-film lama, namun tidak mengurangi feel penonton untuk tetap terhubung dengan kisah-kisah yang disajikan. Tidak terkecuali sang filmmaker sendiri. 

Screening Film
Minikino Film Week, Liew Seng Tat

DISCUSSION TIME: (dari kiri) Fransiska Prihadi mendampingi Liew Seng Tat (tengah) berbincang-bincang dengan penonton usai screening program Made In Malaysia: Liew Seng Tat di Microcinema Kampus Akubank, Minggu (8/10) lalu. (Istimewa)

“Sebenarnya aku merasa malu nonton film-film lamaku lagi. Jelek banget. Rasanya tadi pengen kabur saja dari ruangan ini,” seloroh Seng Tat usai screening yang mengundang gelak tawa penonton.

“Tapi nggak apa-apa sih. Aku mengingatkan pada diriku sendiri bahwa ini adalah salah satu bagian penting dari perjalanan karirku juga,” imbuhnya.

Seng Tat juga memiliki pesan kepada sineas muda agar tidak ragu untuk berkarya. Menurutnya, bukan hal yang buruk ketika seseorang menjalankan sesuatu secara mandiri tanpa tuntunan siapa pun.

“Ada kelebihannya juga. Siapa tahu kalian bisa menciptakan sentuhan baru dalam dunia perfilman,” tuturnya.

Kembali ke film-film lama Seng Tat, tampaknya Flower mendapatkan spotlight tersendiri dalam screening sore itu.

Fransiska Prihadi, programmer Made In Malaysia: Liew Seng Tat turut mengutarakan komentarnya terhadap film tersebut.

“Personally, Flower adalah favoritku dalam program ini. Soalnya kalian bisa merasakan mimpi, kerinduan, hingga cinta tercurahkan dalam film ini,” ujarnya.

Overall, program Made In Malaysia: Liew Seng Tat dapat menghadirkan atmosfir nostalgia di antara penonton.

Jadi rasanya tidak salah jika memasukkan program ini dalam daftar Must-Watch di 3rd MFW. Make sure you won’t miss it! 

(rb/mus/fid/mus/JPR)

 TOP