Selasa, 23 Apr 2019
radarbali
icon featured
Zetizen Radar Bali

Hari Raya Galungan, Kemenangan Dharma Melawan Adharma

03 November 2017, 22: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

hari raya galungan, makna galungan

SEMBAHYANG GALUNGAN: Suasana sembahyang pas Galungan di Pura Jagatnatha, Rabu (1/11) lalu (Miftahuddin Halim/Radar Bali)

RadarBali.com - Seluruh umat Hindu dimanapun berada, baru saja merayakan salah satu hari rayanya yang disebut hari raya Galungan.

Hari raya yang diperingati setiap 210 hari atau enam bulan sekali ini, digelar berdasarkan perhitungan pawukon dan jatuh setiap hari Rabu.

Bukan sekedar perayaan biasa, menurut sumber terpercaya, perayaan Galungan memiliki makna sebagai hari peringatan kemenangan Dharma atau kebenaran melawan Adharma atau kejahatan.

Untuk mengetahui secara detail rangkaian hari raya Galungan, kali ini tim Zetizen Radar Bali menemui salah satu pemangku Pura Dalem di desa Yeh Kuning yaitu I Nengah Suasa.

Menurut beliau nih, rangkaian hari raya Galungan itu dimulai dari hari Kamis Wage wuku Sungsang atau disebut hari Sugihan Jawa yang bermakna sebagai pembersihan atau penyucian segala sesuatu yang berada di luar diri manusia.   

Keesokan harinya, pada Jum’at Kliwon wuku Sungsang ada yang namanya Sugihan Bali yang memiliki makna penyucian atau pembersihan diri sendiri.

Tata cara pelaksanaannya adalah dengan cara mandi, melakukan pembersihan secara fisik, dan memohon Tirta Gocara kepada Sulinggih sebagai simbolis penyucian jiwa raga untuk menyongsong hari Galungan yang sudah semakin dekat.

Lalu, dua hari setelah Sugihan Bali, tepatnya pada hari Minggu Pahing wuku Dungulan disebut hari Penyekeban

yang secara nyata biasanya diikuti dengan proses nyekeb buah-buahan dengan tujuan agar bisa matang pas digunakan untuk Galungan.

Namun secara filosofis, penyekeban Galungan bisa diartikan agar manusia mengekang nafsu maupun ego agar tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama.

Pada hari Senin Pon wuku Dungulan, atau sehari setelah hari Penyekeban ada yang namanya Hari Penyajaan.

Menurut umat Hindu, waktu ini lah yang sangat tepat untuk membuat aneka jajan tradisional yang nantinya digunakan dalam bebantenan Galungan.

Sehari sebelum Galungan, tepatnya pada hari Selasa Wage wuku Dungulan disebut hari Penampahan.

Ini adalah hari yang ditunggu-tunggu, karena pada hari ini seluruh umat Hindu akan berusaha mempersiapkan hidangan yang akan disantap di hari Galungan keesokan harinya.

“Dilihat dari segi filosofi rentetan rangkaian hari raya Galungan tersebut sebenarnya adalah proses untuk penyucian diri agar dalam perayaan Galungan,

kita benar-benar merayakan kemenangan Dharma melawan Adharma. Oleh karena itu, untuk menyambut hari Raya Galungan,

umat Hindu hendaknya benar-benar dapat mengendalikan tiga nafsu atau Sang Kala Tiga yang terdiri dari Bhuta Galungan yaitu Bhuta yang mengganggu manusia bertepatan

dengan perayaan penyekeban atau pada hari Minggu sebelum Galungan, Bhuta Dungulan yaitu Bhuta yang menyerang pada hari penyajaan atau hari Senin,

dan Bhuta Amangkurat  yaitu Bhuta  yang bersifat mengusai dan mengganggu manusia pada saat penampahan Galungan atau hari Selasa),” papar Mangku I Nengah Suasa.

Saat Galungan, yaitu pada hari Rabu Kliwon wuku Dungulan, seluruh umat Hindu pergi ke pura-pura yang berada disekitar tempat tinggal mereka.

Umat Hindu akan berpakaian adat dengan dominan warna putih. Para perempuan membawa sesaji atau banten diatas kepalanya.

Selain pura, umat Hindu juga akan pergi ke merajan sesuai dengan kasta masing-masing untuk sembahyang atau mengaturkan banten yang ditujukan kepada leluhur.

Tadi kita udah bahas hari raya Galungan.  Nah, Zetizen tau gak perbedaan perayaan Galungan tempo dulu dengan zaman now?

Hari raya Galungan memang diakui sudah ada sejak dulu. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Hari raya Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat (Budha Kliwon Dungulan) di tahun 882 Masehi atau tahun saka 804.

Karena Galungan ada sudah dari sejak lama sekali, tentu ada perbedaan antara Galungan tempo dulu dengan sekarang.

“Zaman dulu, kalau mau Galungan, sebulan sebelum hari raya Galungan, ibu-ibu sudah mempersiapkan dan membuat jajan kering atau

jaja gorengan yang digunakan untuk bebantenan. Selain jajan, hampir setiap rumah yang ada di Bali itu memelihara babi untuk persiapan dipotong pada hari penampahan Galungan.

Selain persiapan yang lama, umat Hindu zaman dulu juga memanfaatkan hasil kebun untuk banten. Pada hari raya Galungan, jalanan akan sangat ramai dari pagi hari sampai siang hari.

Semua umat Hindu akan berjalan bersama menuju pura maupun merajan untuk melakukan persembahyangan.

Sedangkan saat ini, semua perlengkapan untuk perayaan Galungan didapat sangat mudah, hampir kebanyakan umat Hindu hanya mempersiapkan dalam waktu seminggu.

Jadi perbedaannya itu sangat terasa di bagian suasana perayaan Galungan,” papar mangku Nengah Suasa.

(rb/tir/mus/JPR)

 TOP