Senin, 16 Dec 2019
radarbali
icon featured
Features
Prostitusi Berkedok Rumah di Desa Bungkulan

Muncul Sejak Sore Hari, Dibanderol Murah Meriah, Berbaur Rumah Warga

03 Februari 2018, 20: 00: 40 WIB | editor : ali mustofa

prostitusi terselebung, desa bungkulan, berbaur rumah warga

CARI LELAKI HIDUNG BELANG: Menjelang senja, para PSK mulai beraktivitas (Wayan Widyantara/Radar Bali)

Share this      

Prostitusi memang masih menjadi tabu di masyarakat. Tapi, hal itu, tidak berlaku di salah satu sudut Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Buleleng.

I WAYAN WIDYANTARA, Singaraja

KUPU – KUPU malam. Istilah tersebut biasanya disematkan pada para wanita penghibur lekaki berhidung belang.

Namun ternyata, para kumbang nakal ini ternyata tidak hanya muncul malam hari. Pagi hari pun, mereka sudah terlihat seksi untuk menarik pelanggan.

Seperti halnya yang disaksikan oleh Jawa Pos Radar Bali Jumat sore kemarin (2/2) di salah satu prostitusi yang berada di daerah Bungkulan.

Matahari memang masih tampak terlihat, namun para wanita seksi tersebut sudah terlihat duduk di depan rumah warga.

Iya, rumah warga. Mungkin hal ini cukup jarang terjadi di tempat prostitusi lainnya. Sore itu, anak kecil terlihat masih bermain di depan gang rumahnya.

Anak muda terlihat sibuk berkumpul di sudut-sudut gang sambil memainkan handphonenya. Begitu juga dengan para orang tua sibuk melakukan aktivitas rumahan.

Warung-warung pun berjualan dengan dagangan seperti biasanya. Tampak tak seperti sebuah tempat prostitusi.

Meski begitu, tempat ini dari dulunya memang terkenal sebagai rumahnya para kupu-kupu malam.

Salah satu sudut, terlihat seorang wanita yang usianya sekitar 40 tahun duduk di atas kursi di depan pintu masuknya.

Pakaiannya pun berbeda dengan warga lainnya. Terlihat seksi, meskipun sulit untuk menutupi usia tua dari wajahnya. “Nyewek pak?,” katanya menawari Jawa Pos Radar Bali.

Obrolan singkat pun terjadi. Katanya, di rumah tersebut hanya ada dua orang saja yang nerima “tamu”. “Tak ada lagi di dalam. (rumah), saya  cuma berdua,” katanya sambil menunjuk temannya yang duduk tak jauh darinya.

Kata perempuan yang mengaku dari Madura tersebut, sudah pagi belum dapat laki-laki yang menemaninya.

“Capek dari pagi belum ada yang masuk (di ajak ke kamar). Ayo masuk, cuma 100 ribu aja,” ajaknya. Namun, kalau nggak mau, katanya, silakan balik dan tetap hati-hati di jalan, kata wanita itu dengan ramah kepada Jawa Pos Radar Bali.

Tak sampai ditempat itu saja, media ini juga memasuki beberapa rumah lainnya. Hanya saja, jumlahnya rata-rata hanya dua orang di setiap rumah.

Salah seorang warga yang juga pemilik salah satu rumah kepada Jawa Pos Radar Bali menuturkan, belakangan ini para lelaki hidung belang juga jarang lagi ke Bungkulan.

“Sepi sekali. Mungkin karena cuaca hujan begini,” ujarnya sambil menawarkan dua orang wanita yang ada di dalam kamarnya tersebut.

Biasanya orang yang datang ke tempat ini dari mana saja? “Yang ngeramain orang dari gunung saja. Seperti warga daerah Kintamani. Kalau warga sini (Bungkulan dan sekitarnya), sih nggak jarang sekali,” terangnya.

Menariknya, tak semua rumah di gang tersebut menyajikan para wanita ini. Untuk membedakannya, setiap rumah yang tidak terdapat tempat prostitusinya diberikan tulisan.

Selain itu, warga di gang tersebut juga tak mungkin marah bila ada pelanggan yang salah masuk kamar.

Tak hanya tempat prostitusi, terlihat juga ada beberapa bar atau tempat karaoke di tempat tersebut. Hal baru lainnya, di gang tersebut juga akan menjadi perumahan.

“Iya. Ini sudah ada 5 rumah yang terbangun. Nanti disini ada perumahannya,” tuturnya.

(rb/ara/mus/mus/JPR)

 TOP