Jumat, 24 May 2019
radarbali
icon featured
Hiburan & Budaya

Cing Bing; Ritual Masyarakat Tionghoa Sembahyang Kubur di Awal April

05 April 2018, 18: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

cing bing, persembahyanga leluhur, tradisi tionghoa, awal april

SEMBAHYANG CING BING: Keluarga Putu Putra Sedana bersembahyang cing bing di depan pusara leluhur (Eka Prasetya/Radar Bali)

SINGARAJA – Awal April ini, masyarakat Tionghoa punya momen istimewa. Mereka menggelar Sembahyang Cing Bing, atau sembahyang leluhur.

Hampir seluruh pekuburan Tionghoa di Buleleng diramaikan umat yang melakukan persembahyangan kubur. Biasanya sembahyang kubur akan berlangsung hingga Kamis (5/4) hari ini.

Pantauan Jawa Pos Radar Bali, saat melakukan sembahyang Cing Bing, warga membawa beberapa persembahan.

Biasanya berupa pakaian, kertas berwarna kuning sebagai simbol uang, serta sejumlah makanan. Begitu usai bersembahyang, makanan itu akan di­-lungsur dan dimakan bersama keluarga di dekat pusara.

Salah satu warga yang melakukan persembahyangan adalah Putu Putra Sedana. Putu mengatakan sembahyang Cing Bing merupakan sembahyang untuk menghormati para leluhur, terutama orang tua.

Setiap tahun ia selalu menyempatkan diri pulang kampung melakukan persembahyangan. Terlepas kesibukannya yang cukup padat sebagai chef di restoran.

“Rasanya aneh kalau kita tidak mendoakan orang tua. Apalagi ini kan sembahyang orang tua, leluhur, makanya harus.

Tiap tahun ya ikut sembahyang. Pokoknya dari awal April, sampai nanti tanggal 5 April setiap tahunnya, harus menyempatkan diri,” kata Putra Sedana.

Sembahyang Cing Bing
cing bing, persembahyanga leluhur, tradisi tionghoa, awal april

SEMBAHYANG CING BING: Keluarga Putu Putra Sedana bersembahyang cing bing di depan pusara leluhur (Eka Prasetya/Radar Bali)

Biasanya usai sembahyang, ia dan keluarga akan ngelungsur makanan yang sempat dihaturkan di atas pusara para leluhur.

Selanjutnya makanan dikonsumsi ramai-ramai di dekat pusara. “Ya bisa dibilang ada kebahagiaan tersendiri.

Rasanya orang tua kita itu melihat dan ikut makan bersama. Kalau persembahan lainnya, seperti pakaian dan uang itu, kami bakar di dekat pusara,” imbuhnya.

Sementara itu Ketua Majelis Rohaniawan Tridharma Indonesia (Matrisia) Kabupaten Buleleng, Pipit Budiman Teja mengatakan, sembahyang Cing Bing berasal dari mitologi Kaisar Cu Yen Chang di Tiongkok.

Cu Yen Chang diyakini lahir dari keluarga miskin dan hidup tak menentu. Seiring berjalannya waktu, Chang tumbuh dewasa dengan cerdas dan bergabung dengan pasukan pemberontak.

Di pasukan itu ia dipercaya sebagai pemimpin dan berhasil menggulingkan kaisar. Ia pun didapuk menjadi kaisar, menggantikan rezim yang terguling.

“Saking miskinnya, orang tuanya meninggal itu tidak ada pusaranya. Akhirnya saat tanggal 5 April pada hitungan masehi, dia ingin sembahyang pada orang tuanya.

Dia kembali ke desa, ternyata tidak melihat kubur orang tuanya, tidak ada pusara. Akhirnya dia membersihkan semua areal pekuburan,

melakukan persembahyangan, untuk menghormati orang tuanya. Akhirnya itu bergulir menjadi sebuah tradisi hingga kini,” jelas Pipit.

Lebih lanjut Pipit menjelaskan, warga keturunan juga merasa wajib melakukan persembahyangan itu tiap tahun.

Bagi umat, berbakti pada orang tua adalah hal yang utama. Termasuk salah satunya melakukan persembahyangan Cing Bing.

“Bagi kami, berbakti pada orang tua itu hal yang paling-paling utama. Meski punya budi baik yang paling baik di dunia, tapi kalau tidak melakukan persembahyangan Cing Bing, rasanya selalu ada yang kurang.

 Makanya orang-orang yang merantau itu, selalu menyempatkan diri pulang, melakukan sembahyang kubur pada leluhur dan orang tua yang sudah meninggal,” tandasnya.

(rb/eps/mus/mus/JPR)

 TOP