Kamis, 20 Sep 2018
radarbali
icon featured
Travelling

DILEMA! Turis Tiongkok Banjiri Bali, Sayang Pelit Belanja

Jumat, 14 Sep 2018 15:45 | editor : ali mustofa

wisatawan tiongkok, pariwisata bali, bank indonesia

JONGKOK: Wisatawan Tiongkok jongkok di Bandara Ngurah Rai (Miftahuddin Halim/Radar Bali)

DENPASAR – Kunjungan turis Tiongkok ke seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Tahun 2017, total kunjungan turis Tiongkok ke berbagai negara di dunia mencapai 127 juta wisatawan. Sementara yang berkunjung ke Indonesia hanya 1,9 juta.

Dari jumlah tersebut, yang berkunjung ke Bali hanya sekitar 1,3 juta. Fakta itu terungkap berdasar data dari Bank Indonesia Regional Bali per Agustus 2018 lalu.

Dilihat dari rata-rata pertumbuhan kunjungan wisatawan Tiongkok, juga terlihat peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada periode 2010-2017, rata-rata pertumbuhan kunjungan turis Tiongkok ke berbagai negara di seluruh dunia mencapai 13,30 persen.

“Sementara itu, rata - rata pertumbuhan kedatangan turis ke Indonesia dan ke Bali lebih tinggi dibanding rata-rata global yaitu masing-masing sebesar

22,39 persen yoy dan 28,50 persen yoy untuk periode yang sama,” ujar Causa Iman Karana, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali.

Dengan jumlah wisatawan yang mengungguli jumlah wisatawan negara lain, total pengeluaran dari wisatawan Tiongkok melebihi total pengeluaran dari wisatawan negara lain.

Total pengeluaran turis Tiongkok mencapai US$2,611 juta pada tahun 2016, lebih tinggi dibanding total pengeluaran dari wisatawan US yang mencapai US$1,236 juta.

Tren peningkatan kunjungan wisman Tiongkok di dunia global, juga terjadi di Bali. Pada tahun 2017, Di Bali, wisman asal Tiongkok menjadi pasar utama dengan pangsa 24 persen dari total wisman.

Meningkat dibanding tahun 2016 yang sebesar 20 persen. Meski turis Tiongkok membanjiri berbagai negara, termasuk Indonesia dan Bali, terdapat permasalahan terkait penerimaan devisa yang didapat.

Dengan jumlah kunjungan wisatawan yang sangat banyak, namun, rata-rata pengeluaran dari wisatawan Tiongkok tersebut masih lebih rendah di banding wisatawan negara lain.

Di Bali, rata-rata pengeluaran wisatawan Tiongkok sebesar Rp 9,6 juta, lebih rendah dibanding rata-rata pengeluaran wisatawan Australia, Eropa, dan Jepang.

Rendahnya rata-rata pengeluaran wisatawan Tiongkok menyebabkan penerimaan devisa dari sektor pariwisata tidak bisa optimal.

“Oleh karena itu, berbagai negara yang menjadi tujuan utama wisatawan Tiongkok berusaha memaksimalkan penerimaan devisa dari wisatawan Tiongkok,” Jelas Causa.

(rb/ika/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia