Senin, 17 Dec 2018
radarbali
icon featured
Metro Denpasar
Insipirasi dari Luh Putu Febri Sriandari

Tulang Belakang Bengkok Penyakit Langka, Risiko Gagal Pasien Mati

25 September 2018, 13: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

penyakit langka, tulang belakang bengkok, rsup sanglah

SEMBUH: Luh Putu Febri Sriandari (tengah) diapit para dokter usai operasi di RSUP Sanglah (Marcell Pampur/Radar Bali)

DENPASAR - Luh Putu Febri Sriandari begitu bahagia usai melewati operasi yang menentukan jalan hidupnya.

Bagaimana tidak, hari ini adalah hari terakhirnya berada di rumah sakit. Dia akan segera pulang ke rumah usai menjalani operasi Severe Adolescent Idiopathic Scoliosis dengan kebengkokan 110 derajat di bagian tulang belakangnya.

Menurut ketua tim operasi, dr Gusti Lanang Artha Wiguna, kasus yang dialami Febri – sapaan akrab Luh Putu Febri Sriandari adalah kasus pertama di Bali.

Bahkan, RSUP Sanglah menjadi rumah sakit ketiga yang berhasil melakukan operasi ini di Indonesia. Dua rumah sakit lainnya di Jakarta.

Tingkat resiko dari operasi ini pun sangat tinggi karena bisa menimbulkan kelumpuhan total hingga meninggal dunia.

"Dalam prosesnya, tidak ada tulang yang dibuang. Tapi, kami memotong tulang dan kemudian diluruskan dan menanam kembali tulang yang telah dipotong," kata dr Lanang Artha Wiguna.

Ajaibnya, dua hari setelah dioperasi total, pasien langsung dipindahkan ke ruang perawatan dan bahkan sekarang sudah bisa berjalan normal meski masih dibantu dengan memakai braace.

Menurut dr. Artha Wiguna, Severe Adolescent Idiopathic Scoliosis kasusnya lebih dari satu kali di Bali. Tapi, dengan tingkat kebengkokan parah seperti Febri, baru kasus pertama di Bali.

Terkait penyebabnya, menurut dia, bisa jadi faktor terbesar yang mempengaruhi kelainan ini adalah faktor genetik dan paling banyak menimpa kaum wanita.

"Perbandingannya 7 berbanding 1, dan lebih banyak perempuan," katanya. Biasanya gejala munculnya yang terlihat secara kasat mata akan mulai terlihat saat wanita sudah melewati masa menstruasi pertama.

Ditemui di tempat yang sama, ibu dari pasien, Nyoman Suartini, tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Dia mengaku senang karena putrinya telah melewati masa sulit ini.

Apalagi risiko dari operasi ini sangat besar. "Saya bahagia sekali. Karema putri saya telah lama menderita karena sakitnya ini. Sekarang sudah baik, dan saya tentunya bahagia," ungkapnya.

(rb/mar/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia