Jumat, 19 Oct 2018
radarbali
icon featured
Sportainment

Atlet Korsel Jadi Korban Gempa Palu, Ini Kisah Atlet Paralayang Bali..

Minggu, 07 Oct 2018 09:30 | editor : ali mustofa

atlet korsel meninggal, gempa palu, atlet paralayang, gunung payung

LANDING: Atlet paralayang landing di sekitaran Gunung Payung, Kutuh, Nusa Dua, kemarin (Miftahuddin Halim/Radar Bali)

KUTUH – Dunia olahraga paralayang Indonesia tengah berduka. Empat orang atlet meninggal dunia akibat gempa dan tsunami yang menerjang Palu, Jumat (28/9) lalu.

Keempatnya yakni Glen Mononutu, Franky Kowas, Petra Mandagi, dan Ardi Kurniawan. Satu lagi adalah atlet paralayang asal Korea Selatan; Lee Dong Jin.

Jasad Lee Dong Jin ditemukan oleh tim SAR di reruntuhan Hotel Roa-Roa Kamis kemarin (4/10).

Penghormatan terakhir bagi Lee pun dilakukan di Bali Paragliding, Pantai Sawangan, Sabtu siang kemarin (6/10). Setdaknya 41 kerabatnya datang untuk memberikan penghormatan terakhir.

Termasuk beberapa atlet paralayang Bali di antaranya Marsdiono dan pengurus FASI Bali seperti Rizky Widiantara yang menjabat sebagai Ketua Harian Pengprov FASI/Paralayang Bali.

Ibunda Lee Dong Jin, Kwon Sunhei juga datang langsung dari Korea Selatan. Kwon tiba di Bali Sabtu lalu (29/9) atau satu hari pasca gempa Palu.

Menurut Kwon, Dong Jin memang senang berada di Bali untuk fokus berlatih paralayang. Itu sebabnya dia sendiri yang meminta penghormatan terakhir sang anak tercinta di Bali.

“Walaupun Dong Jin sudah tiada, tetapi dia tetap ada dihati dan menunggu diatas sana. Saya ingin semua kerabat dekat bisa ikut dalam prosesi ini, makanya kami lakukan di Bali,” terangnya.

Jasad Dong Jin sendiri sudah dikremasi di Palu dan abunya akan dibawa ke Korea Selatan kemarin malam oleh sang ibu.

Disisi lain, salah seorang rekannya selama berlatih di Bali, Marsdiono yang juga atlet paralayang Bali mengaku cukup terpukul dengan meninggalnya Dong Jin.

Baginya, Dong Jin adalah guru, teman, sekaligus saudara baginya. Dia mengaku sempat diajak oleh Dong Jin untuk ikut kejuaraan di Palu.

Namun keinginan tersebut batal terlaksana karena ada sesuatu yang tidak bisa ditinggal di Bali. “Dong Jin sempat ajak saya ke Palu. Sebelum kejuaraan di Palu, ada Kejurnas Paralayang di Sumedang,

tetapi hasilnya kurang memuaskan. Makanya Dong Jin ngotot ke Palu. Saya diajak ikut dan biaya hidup disana dia yang akan bayar. Tetapi saya tidak bisa. Jalan Tuhan tidak ada yang tahu,” pungkasnya.

(rb/lit/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia