Sabtu, 20 Oct 2018
radarbali
icon featured
Radar Jembrana

Selat Bali Dipadati Turis saat Even IMF, 2 Diamankan, Imigrasi Sebut..

Selasa, 09 Oct 2018 10:19 | editor : ali mustofa

imf-wb meeting, pemeriksaan keimigrasian, pelabuhan gilimanuk, pencari suaka politik

PEMERIKSAAN DOKUMEN: Petugas Imigrasi mengecek dokumen keimigrasian turis asing di Pelabuhan Gilimanuk kemarin (Anom Suardana/Radar Bali)

NEGARA - Jalur darat melalui penyeberangan di Selat Bali belakangan ini mulai ramai dilintasi warga negara asing (WNA) saik keluar maupun masuk Bali seiring adanya pertemuan tahunan petinggi IMF – World Bank di Nusa Dua, Bali.

Selain wisatawan murni, ada indikasi juga ada pengungsi dari negara yang dilanda konflik yang ingin masuk Bali untuk mencari suaka politik.

Salah satu yang berhasil diamankan aparat imigrasi adalah Muhamad Yusuf Hasan Zada,31, pengungsi asal Afganistan.

Selain Muhamad Yusuf Hasan Zada, petugas imigrasi juga mengamankan seorang WNA asal Uganda bernama Susan, pada Minggu (8/10) sekitar pukul 03.30.

Susan terpaksa diamankan dan dibawa ke kantor Imigrasi Singaraja untuk diperiksa lebih lanjut lantaran tidak membawa paspor.

“Karena tidak membawa paspor maka dia melanggar Undang-Undang Imigrasi dan kami amankan untuk diperiksa lebih lanjut,” ungkapnya.

Menurut Kepala Sub Seksi Izin Tinggal Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas II Singaraj Wawan A Mido, sejak petugas Imigrasi ditempatkan di pos KTP Gilimanuk, ada ratusan WNA yang masuk Bali melalui Selat Bali.

Mereka masuk Bali baik dengan cara jalan kaki maupun menumpang kendaraan. Mereka sebagian besar adalah wisatawan yang ingin berwisata ke Bali.

”Setiap hari cukup banyak WNA yang masuk Bali. Jumlahnya tidak tentu, kadang belasan tapi kadang ratusan orang. Namun sebagian besar dokumennya sudah lengkap,” jelasnya.

Menurut Mido, pemeriksaan terhadap WNA yang masuk Bali melalui pelabuhan Gilimanuk baik paspor maupun izin tinggal bertujuan

untuk mengantisipasi masuknya pengungsi atau pencari suaka dari negara konflik yang dikhawatirkan mengganggu pelaksanaan IMF dan World Bank.

“Dikhawatirkan moment ini dijadikan untuk melakukan tuntutan agar pengungsi atau pencari suaka itu bisa ditempatkan di negara –negara ketiga,” pungkasnya

(rb/nom/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia