Sabtu, 20 Oct 2018
radarbali
icon featured
Sportainment

Ajik The Bullhead Konsisten Lawan Pembantaian Anjing, Begini Kritiknya

Selasa, 09 Oct 2018 16:33 | editor : ali mustofa

ajik the bullhead, lawan pembantaian anjing, lagu baru

Ajiq The Bullhead (Istimewa)

DENPASAR  - Pada tahun 2014 lalu, band punk rock asal Karangasem, The Bullhead menelurkan single berkonsep social-environment berjudul A Paradise Of The Dogs. 

Penulisnya adalah Ida Bagus Gede Nara Digda, sang penggebuk drum grup band ini. Ajiq – sapaan akrabnya menciptakan lagu A Paradise Of The Dogs bukan tanpa alasan.

Ia menulis lirik lagu ini sebagai bentuk sindiran atas maraknya pembantaian anjing di Bali. Ia, memang dikenal bukan sekadar pemusik.

Ajiq memang dikenal sebagai salah satu aktivis yang aktif menyuarakan tentang perlindungan hewan, terutama anjing.

Ia bersama komunitas Stop Buang Anjing pun kerap melakukan kampanye dan aksi untuk melawan pembantaian anjing di Bali yang dilakukan tanpa dasar yang kuat.

Apalagi, itu sempat marak di tengah wabah rabies yang melanda Bali sejak 2009 lalu. Kepada Jawa Pos Radar Bali, Ajiq mengakui, sejauh ini penanganan rabies belum berhasil.

“Setelah 9 tahun, Bali masih red zone (zona merah) untuk rabies. Virusnya masih belum benar-benar teratasi,” kata Ajiq, membuka percakapan bertepatan dengan peringatan World Rabies Day baru-baru ini.

Baginya, metode penanganan dari pemerintah sendiri masih belum ada kemajuan dari tahun ke tahun. Penerapan programnya masih itu-itu saja.

Walaupun, ia mengakui, memang pemerintah tidak bisa disalahkan sepenuhnya dalam situasi ini.

“Karena masyarakat sendiri masih banyak yang belum benar-benar teredukasi dengan baik, tentang bagaimana rabies dan sebagainya. Dari penularan, pencegahan, sampai penangananan,” sebutnya.

Masyarakat, dikatakan masih belum sadar bagaimana akibat buruk dari hal yang paling terlihat. Paling simpel, membiarkan anjing atau kucing yang dipeliharanya dan juga membuang anjing atau kucing yang tidak ingin lagi dipeliharanya. 

“Di lain pihak, pemerintah juga masih berpikir keliru dengan menganggap akar masalahnya adalah hewannya.

Yang dari kacamata saya pribadi, akar masalahnya malahan adalah dari kitanya. Manusianya,” tuturnya.

(rb/ara/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia