Rabu, 19 Dec 2018
radarbali
icon featured
Metro Denpasar
Aksi Tolak IMF - World Bank Meeting

Demonstran Sebut Amerika Teroris Dunia, Tuding Jokowi Khianati Rakyat

12 Oktober 2018, 13: 22: 56 WIB | editor : ali mustofa

imf - wb meeting, tolak imf, konjen amerika, presiden jokowi, teroris dunia

PROTES IMF – WB: Ratusan massa memadati Bundaran Renon, dekat Konsulat Amerika Amerika memprotes pertemuan tahunan IMF – World Bank (Marcell Pampur/Radar Bali)

DENPASAR – Beragam tuntutan dilayangkan para demonstran yang tergabung dari berbagai aliansi yang digelar di depan Konsulat Amerika Serikat di Jalan Hayam Wuruk, Denpasar, Jumat (12/10) siang.

Seperti menuntut hak kaum buruh, kaum petani, hak hingga upah layak kaum perempuan. Dalam orasinya, massa menyebut salah satu hal yang memantik semua hal itu adalah peran Amerika yang terlalu mendominasi.

Dalam yel yelnya, massa menyebut imperialis dan teroris nomor 1 di dunia adalah Amerika Serikat. 

"Kami mengecam Amerika yang selalu ikut campur dalam urusan ekonomi dan budaya Indonesia," tegas Rudi HB Daman, Ketua Gabungan Serikat Buruh Indonesia yang juga ikut dalam aksi tersebut.

Massa juga menyebut Jokowi telah mengkhianati rakyat Indonesia. Dimana rezim Jokowi dituding telah menyengsarakan rakyat, terutama mereka yang saat ini telah ditimpa bencana. 

Dimana mereka menyebut penanganan Jokowi terkait korban bencana masih sangat minim. Sementara di Bali, pemerintah malah membiayai penyelenggaraan IMF-World Bank dengan anggaran Rp 850 miliar.

Belum lagi kucuran untuk proyek infrastruktur yang nilainya mencapai Rp 5 triliun. "Perhelatan menghabiskan miliaran itu di mana pemerintahan Jokowi lebih mementingkan

kepentingan para investor. Semua hal yang dilakukan Jokowi adalah omong kosong dan tipu daya ," ujar Ida Jubaedah, dari Serikat Perempuan Indonesi Seruni dalam orasinya. 

Menurut dia, rezim Jokowi tidak menjamin upah layak bagi kaum perempuan. Para bankir di bawah IMF - WB justru dianggap turut mendanai perampasan tanah dan lahan masyarakat.

Hal ini menyebabkan masyarakat kecil lapar, dan gizi buruk bagi anak-anak. "Banyak perempuan terpaksa menjadi buruh harian lepas dengan upah minim dan tidak ada jaminan perlindungan kerja," tambahnya.

Dalam aksinya, para peserta demo juga menyanyikan yel-yel tentang perlawanan, juga spanduk san poster menentang IMF-WB.

(rb/mar/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia