Rabu, 14 Nov 2018
radarbali
icon featured
Sportainment

Bergeser Fungsi dan Makna, Diastini Ingatkan Filosofi Rejang Renteng

Senin, 22 Oct 2018 13:54 | editor : ali mustofa

tari rejang rentang, tarian modifikasi, tarian sakral

REJANG RENTENG: Penari bawakan tarian rejang renteng dalam sebuah lomba (Eka Prasetya/Radar)

SUKASADA – Tari Rejang Renteng yang kini tengah booming, terutama di kalangan ibu-ibu, mulai mengalami pergeseran fungsi dan makna.

Tari yang tadinya berfungsi sebagai sebuah persembahan, mulai dijadikan sebagai tari tontonan (balih-balihan). Bahkan gerak maupun busana tari mulai dimodifikasi.

Peneliti sekaligus penggiat Tari Rejang Renteng, Ida Ayu Made Diastini pun tegas meminta agar tari ditempatkan ke fungsi awalnya.

Yakni sebagai tari wali dan tari bebali. Hal itu diungkapkan Dayu Diastini dalam acara Seminar Tari Rejang Renteng, di Sukasada, kemarin.

Seminar itu sengaja digelar dalam rangkaian Gelar Seni Budaya (Gasebu) yang digelar Pemerintah Kecamatan Sukasada.

Dayu Diastini mengatakan, Tari Rejang Renteng adalah wadah bagi ibu-ibu untuk ngayah di pura. Tari ini pun dapat dibawakan dalam rangkaian piodalan di pura.

Selain itu dapat dibawakan di acara melasti. Karena banyak berkaitan dengan upacara dewa yadnya, maka tarian ini pun masuk dalam kelompok Tari Wali.

Namun di beberapa sisi, tari ini juga dapat dibawakan dalam kegiatan manusa yadnya. Termasuk dibawakan dalam acara lomba desa, porseni, pekan budaya, pentas budaya, maupun festival.

Sehingga dapat dimasukkan pula dalam ketagori Tari Bebali. Ia mengingatkan agar Tari Rejang Renteng tidak digunakan dalam beberapa kegiatan.

“Untuk tontonan (balih-balihan) tidak boleh, itu sudah beda fungsinya. Tidak boleh untuk partai. Menyambut tamu tidak boleh. Rejang Renteng ini hanya untuk wali dan bebali,” tegasnya

Ia juga mengaku prihatin dengan fenomena modifikasi pakaian penari rejang renteng. Pakem pakaian yang tadinya berwarna putih dan kuning, mulai dimodifikasi menjadi warna putih dan merah, serta warna putih dan biru.

Warna putih-merah misalnya, digunakan saat pembukaan Festival Lovina. Sementara warna putih-biru digunakan saat Ulun Danu Art Festival.

“Pakemnya itu putih kuning. Warna lain, tidak boleh. Ada filosofinya itu. Harus tahu. Harus benar-benar dipelajari rejang renteng yang benar itu seperti apa,

sejauh mana pengembangannya. Rejang itu diambil dari tari-tari wali. Tari wali itu apa, ya harus dipahami itu,” tegasnya.

Dayu Diastini juga mengingatkan agar gerak tari tidak dipotong begitu saja. Sebab seluruh gerakan memiliki filosofi penting. Terutama pada bagian pengecet (akhir tari).

Bila ingin mempersingkat durasi, hanya diperbolehkan pada bagian pengawak (inti) saja. Bagian pengawak yang biasanya ditarikan lima kali, dapat ditarikan tiga kali.

“Tabuh juga tidak boleh pakai angklung daun empat, karena itu pengiring pitra yadnya. Selain itu, boleh. Tata rias juga jangan pakai bunga emas-emasan, bunga mati itu. Gunakan bunga asli,” tukasnya. 

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia