Rabu, 14 Nov 2018
radarbali
icon featured
Sportainment

Kondisi Laut Bali Rentan, Kaka Slank Mendadak Singgung Pengurukan

Rabu, 31 Oct 2018 13:18 | editor : ali mustofa

kaka slank, pengurukan laut, laut bali

Vokalis Slank Akhadi Wira Satriaji alias Kaka (Wayan Widyantara/Radar Bali)

NUSA DUA - Akhadi Wira Satriaji atau kerap di sapa Kaka, vokalis Slank saat ditemui Jawa Pos Radar Bali mengatakan, Bali mesti memikirkan kembali pengurukan laut yang terjadi saat ini.

Sebab, dari hasil penelitian Bali Ocean Health Index (OHI) + 2018, perairan Bali dalam kondisi hati-hati.

“Sebetulnya sih urgensi tentang pengurukan laut itu apa?. Perlu atau nggak? Sebenarnya itu sih. Sedangkan untuk underwaternya sih cukup.

Tapi, terus terang beberapa tahun belakangan ini gua sudah nggak diving di Bali. Besok gua mau diving. Nanti kalau loe nanya lagi, gua kasih tau lo,” ungkap Kaka dengan logat Jakarta.

Diketahui, Pemerintah Daerah Provinsi Bali dan Conservation International-Indonesia (CI Indonesia) Selasa kemarin (30/10) kemarin meluncurkan index kesehatan laut Bali atau Health Ocean Index (OHI)+ untuk Kawasan laut di Bali.  

OHI Bali merupakan pilot project tingkat provinsi yang pertama kali diluncurkan di Indonesia. Tanda plus di belakang OHI

menunjukkan bahwa OHI merupakan kolaborasi berbagai lembaga dan memperhatikan kondisi lokal yang ada di Bali.

Beberapa pertimbangan pelaksanaan OHI+ di Bali antara lain ketergantungan masyarakat Bali yang tinggi terhadap laut,

dengan adanya konsep Nyegara Gunung, adanya Subak sejak tahun 1072 Masehi, adanya Perda tentang Bendega (nelayan) yaitu Perda No.11/2017.

Tim pengukuran OHI+ Bali terdiri dari 13 lembaga baik pemerintah, LSM, maupun universitas mulai bekerja sejak tahun 2016 dan telah dikukuhkan

sebagai Tim Teknis melalui Keputusan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Pesisir dan Laut No.53/BALITBANG KP.2/XII/2016.

Seluruh tim menghimpun dan menyiapkan data time series (berlanjut) yang dibutuhkan untuk menyusun OHI+, dimana minimum data yang dibutuhkan adalah selama 5 tahun terakhir.

Terdapat 10 sasaran sebagai sebagai parameter pengukuran, namun hanya 9 yang dipakai di Bali.

Kesembilan sasaran itu adalah Turisme dan Rekreasi, Perikanan Tradisional, Keanekaragaman Hayati,

Penyimpanan Karbon, Perlindungan Pantai, Penyediaan Pangan, Orientasi Tempat, Produk Alami, dan Perairan Bersih.

Sedangkan satu parameter yaitu Ekonomi dan Mata Pencaharian, menurut Kepala Kantor Perikanan dan Kelautan Bali Ir. Made Gunaja, M.Si belum dapat dihitung karena masih membutuhkan lebih banyak data pendukung.

Sembilan parameter pengukuran itu juga menunjukkan adanya kerjasama dari berbagai lembaga yang turut menyediakan data.

Di antaranya pariwisata, kelautan dan perikanan, tenaga kerja, dinas pendapatan daerah, perdagangan, dan lain-lain.

 Gunaja juga mengumumkan bahwa nilai total OHI+ Bali adalah 51 atau kategori sedang dari nilai total maksimal 100.

Gunaja juga menjelaskan tantangan terberat dalam penyusunan OHI+ Bali adalah komunikasi dan koordinasi antar lembaga di seluruh provinsi Bali dalam penyediaan data time series.

“Kami berharap ada komunikasi dan sosialisasi yang lebih baik pada kesempatan yang akan dating, sehingga kita bisa mengumpulkan seluruh data OHI, dan seluruh instansi mengetahui arti penting OHI ini,” ujarnya.

Dari sembilan parameter yang diukur, ada yang diproyeksikan akan memiliki nilai menurun, tetap dan  meningkat.

Parameter  Penyimpanan Karbon menunjukkan kecenderungan tetap, sedangkan Keanekaragamanan Hayati dan Perikanan Tradisional memiliki kecenderungan menurun.

Tetapi enam parameter lain diproyeksikan meningkat.

(rb/ara/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia