Senin, 10 Dec 2018
radarbali
icon featured
Politika

Dari Jualan Keripik, Ida Ayu Suryawati Bidik Kursi DPR RI

12 November 2018, 09: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

Ida Ayu Suryawati, caleg dpr ri, pileg 2019, partai garuda

Ida Ayu Suryawati (Istimewa)

DENPASAR - Muda, cantik, cerdas, dan nekat. Inilah yang tercermin dari caleg DPR RI nomor urut 3 Partai Garuda dapil Bali.

Saking nekatnya, wanita 27 tahun bernama lengkap Ida Ayu Suryawati itu hanya bermodal hasil jualan keripik pisang untuk bertarung memperebutkan jatah 9 kursi di Senayan, 17 April 2019 mendatang.

Saat para caleg lain bergerilya melakukan simakrama hingga ke pelosok-pelosok desa demi meraih suara,

Ida Ayu Suryawati (tengah)

Ida Ayu Suryawati (tengah) (Istimewa)

Suryawati memilih berpindah dari satu pintu ke pintu lain membawakan keripik pisang merk Sunbiz pesanan pelanggannya.

“Tidak ada yang tidak mungkin. Jika kita bersungguh-sungguh dalam usaha dan niat didasari ketulusan dan kejujuran, maka mimpi semustahil apapun akan terwujud,” jelas Suryawati, Minggu (11/11) malam.

Marketing Balisigi Property itu mengaku tidak malu nyaleg hanya bermodal hasil jualan keripik dari rumah ke rumah. Dia berprinsip yang penting halal; bukan hasil korupsi.

“Kalau permintaan banyak bisa dapat keuntunganRp 800 ribu per hari. Nah, itulah yang saya kelola untuk kebutuhan nyaleg,” ucapnya polos.

Kepada Jawa Pos Radar Bali, wanita single itu mengaku tidak punya beban. “Bila terpilih syukur, kalau tidak, no problem. Tapi saya tetap berusaha karena saya punya kemampuan.

Yang tidak punya kemampuan saja jadi dewan. Kok saya nggak bisa?” ucap Suryawati yang menyebut Tuhan sering tidak adil pada umatnya.

“Saya terjun ke politik untuk mengecek apakah masyarakat Bali masih punya hati atau tidak. Saya tidak punya uang, tapi punya kemampuan.

Saya juga tidak akan memberi atau menjanjikan uang. Ini tidak mendidik dan perlahan menghancurkan Bali,” ucap perempuan yang juga nyambi sebagai tour guide itu.

Soal kenekatannya nyaleg dari partai politik anyar, yakni Garuda dirinya menjawab karena masih banyak masyarakat yang kurang beruntung di Bali.

“Saya pilih Garuda karena saya manusia yang suka berproses. Partai besar lain juga dulu kecil. Dari kepompong menjadi kupu-kupu,” pungkasnya. (rba)

(rb/ken/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia