Selasa, 12 Nov 2019
radarbali
icon featured
Dwipa

Inovatif, Klungkung Santuni ODHA Rp 500 Ribu dan ARV Seumur Hidup

03 Desember 2018, 17: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

odha klungkung, santuni odha, kpa klungkung, santunan dana, obat arv

Ilustrasi (dok.jawapos.com)

Share this      

SEMARAPURA - Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Klungkung mencatat ada sebanyak 50 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) telah membuka diri dan terdata di Bumi Serombotan.

20 di antaranya tercatat sebagai KK miskin dan penerima dana bantuan dari pemerintah. Menurut Sekretaris KPA Klungkung I Wayan Sumanaya, mereka menerima bantuan melalui Program Jaga Gerbang (Jangkau Siaga Gerak Bangun).

Program inovatif ini diciptakan sebagai upaya untuk memberikan pelayanan terbaik kepada ODHA.

“Melalui program ini para ODHA yang mau terbuka dan terdata di KPA akan mendapatkan perhatian dan pendampingan,” katanya.

Selain itu, ODHA yang mau terbuka ini juga akan mendapatkan obat Arv (Antiretroviral) secara gratis seumur hidupnya, serta mendapat dana bantuan setiap tahun sebesar Rp 500 ribu.

Sebagai wujud komitmen Pemda Klungkung dalam memperhatikan para ODHA, KPA Klungkung mendapatkan dana operasional dari Pemda Klungkung Rp 643 juta.

“Ke depan akan ditingkatkan lagi seiring dengan rencana Bupati Klungkung untuk meningkatkan dana bantuan ODHA yang sebelumnya Rp 500 ribu per tahun menjadi Rp 1 juta per tahun,” ujarnya.

Menurutnya, Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta berencana menciptakan seorang motivator dari seorang ODHA agar bisa memotivasi dan menceritakan pengalamannya kepada yang lain.

Jumlah ODHA di Klungkung sendiri lebih banyak daripada jumlah ODAH yang membuka diri. Namun, karena rasa malu dan sejumlah faktor lainnya, akhirnya mereka-mereka itu enggan menerima jasa pendampingan dari (KPA).

“Bahkan, ada yang meninggal dunia. Tidak sedikit yang kami temukan dengan kondisi yang sudah sangat parah,” ungkapnya.

Diungkapkannya, ODAH di Klungkung tidak hanya orang dewasa, namun juga anak remaja dan anak-anak. Bahkan ada yang satu keluarga, dari orang tua hingga anak-anaknya menderita HIV/AIDS ini.

Hal ini terjadi tidak terlepas dari gaya hidup bebas dan juga acuhnya penderita terhadap penyakitnya ini sehingga akhirnya menular ke sejumlah orang bahkan anak-anaknya.

“Ada ibu-ibu yang menderita HIV/AIDS sedang mengandung. Saat diarahkan untuk mendapatkan pendampingan, pengakuannya saja bilang mau, namun tidak datang.

Padahal, agar anaknya tidak terjangkit, selama masa kehamilan harus mendapat perawatan khusus,” tandasnya.

(rb/ayu/mus/JPR)

 TOP