Senin, 17 Dec 2018
radarbali
icon featured
Ekonomi

Sasar Pasar Ekspor, Buleleng Kembangkan Pisang Mas

04 Desember 2018, 11: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

pisang mas kirana, pasar ekspor, distan buleleng

Ilustrasi (Istimewa)

SINGARAJA – Dinas Pertanian Buleleng berencana mengembangkan komoditas pisang dengan varietas pisang mas kirana.

Varietas yang banyak ditemukan di Provinsi Jawa Timur ini akan dicoba dikembangkan di Bali Utara. Rencananya varietas ini disiapkan untuk pasar ekspor.

Varietas mas kirana terbilang pisang yang unik. Pisang ini memberikan kualitas terbaik pada dataran tinggi.

Rencananya pisang ini akan ditanam pada daerah dengan ketinggian 400 meter di atas permukaan laut (Mdpl).

Untuk tahap awal, rencananya pisang itu akan dikembangkan di lahan seluas 50 hektare dengan menyasar lahan di Kecamatan Tejakula dan Kubutambahan.

“Minat petani cukup besar. Usulannya malah sudah mencapai 90 hektare. Tapi untuk tahap awal, kami akan coba di lahan seluas 50 hektare dulu,” kata Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Buleleng, I Gede Subudi.

Untuk pengembangan lahan itu, Dinas Pertanian akan melakukan seleksi secara ketat. Mengingat pisang dipersiapkan sejak dini untuk pasar ekspor.

Petani diharapkan melakukan registrasi lahan, melakukan penanaman dengan pupuk organik, hingga melakukan pemeliharaan serta pemberantasan hama dengan cara alami.

“Ini memang disiapkan sejak awal untuk pasar ekspor. Jadi kami harus selektif. Akan kami pilih berdasarkan yang paling siap dan paling sesuai,” imbuhnya.

Saat ini ada sejumlah petani yang menyatakan sudah siap mengembangkan varietas itu. Petani tersebut tersebar di Desa Bondalem dan Julah di Kecamatan Tejakula; serta Desa Bulian, Tunjung, dan Bila di Kecamatan Kubutambahan.

Rencananya petani akan mulai menanam pada Februari, setelah bantuan bibit dari Kementerian Pertanian siap.

Apabila sudah siap panen, pisang akan disiapkan untuk diekspor ke Tiongkok. Saat ini sejumlah perusahaan di Jawa Timur sudah mengekspor komoditas ini dengan volume hingga 18 ton per pekan.

Namun jumlah itu dianggap masih kurang, sehingga komoditas pisang juga dikembangkan di Bali Utara. 

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia