Senin, 25 Mar 2019
radarbali
icon featured
Travelling

Trend Baru, Wisatawan ke Nusa Penida Lebih Suka Menginap di Homestay

10 Desember 2018, 13: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

trend baru, pariwisata nusa penida, penginapan homestay

ASRI: Penginapan Nyuh Bengkok menjadi alternatif pasangan muda untuk menginap selama mengeksplore alam Nusa Penida (dok.radarbali)

SEMARAPURA – Pesatnya perkembangan pariwisata Nusa Penida memicu tumbuhnya jumlah penginapan di kawasan tersebut.

Dinas Pariwisata Klungkung mencatat ada sebanyak 353 penginapan yang berdiri di Kabupaten Klungkung dan sebagian besar berada di Kecamatan Nusa Penida.

Homestay menjadi penginapan yang banyak dipilih wisatawan saat berada di Nusa Penida.

Kadis Pariwisata Klungkung I Nengah Sukasta menjelaskan, 353 penginapan yang ada di Kabupaten Klungkung itu sekitar 90 persennya berada di Kecamatan Nusa Penida.

Ini mengingat Nusa Penida saat ini banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. “353 penginapan itu terdiri dari 180 homestay, 169 hotel bintang satu, 3 hotel bintang dua, dan satu hotel bintang tiga,” bebernya.

Dengan jumlah hotel sebanyak itu, menurutnya, ketersediaan penginapan di Nusa Penida sudah mencukupi.

Sebab beberapa tahun lalu, jumlah penginapan di Nusa Penida masih terbatas sehingga saat pick season, banyak wisatawan yang tidak mendapat penginapan.

“Keberadaan hotel dan homestay saat ini sudah mencukupi,” katanya. Uniknya, wisman yang berkunjung ke Nusa Penida lebih tertarik menginap di home stay yang fasilitasnya dibawah hotel-hotel bintang yang ada di Telur Emas Bali itu.

Apalagi, harga kamar homestay tergolong murah, yakni lebih murah 50 persen dibandingkan dengan harga hotel per malam atau rata-rata sekitar Rp 250 ribu – Rp 300 ribu per malam.

Meski begitu, menurutnya, wisman yang memilih menginap di homestay itu bukan karena anggaran jalan-jalannya terbatas, namun mereka ingin mengenal Nusa Penida dengan berbaur bersama masyarakat Nusa Penida.

“Tamu yang menginap di homestay biasanya ingin membaur dengan pemiliknya dan ingin melihat langsung kehidupan masyarakat sehari-hari.

Seperti bagaimana cara masyarakat mebanten, buat canang, dan aktivitas lainnya yang tidak ada di hotel,” ujarnya.

Tidak heran, tingkat hunian homestay selalu penuh. Bahkan saat kunjungan wisatawan sepi atau low season, tingkat hunian homestay tak kurang dari 50 persen.

Padahal, rata-rata tingkat hunian di Nusa Penida saat low season bisa berkisar 30-40 persen. “Rata-rata setiap homestay itu biasanya ada sekitar 5-10 kamar,” tandasnya. 

(rb/ayu/mus/JPR)

 TOP