Senin, 27 May 2019
radarbali
icon featured
Hiburan & Budaya

Sedih, Hasil Survei Disbud, Seni Drama dan Arja Kini Tak Lagi Populer

26 Desember 2018, 14: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

survei disbud, drama gong, seni arja, disbud buleleng

BERTAHAN: Salah satu atraksi gebug ende yang masih bertahan sampai saat ini. Sementara drama dan arja di Buleleng mulai punah (Eka Prasetya/Radar Bali)

SINGARAJA – Kesenian arja dan drama gong, kini tak lagi menjadi kesenian populer. Padahal pada masanya, dua kesenian ini menyedot banyak penonton.

Bahkan, bisa membuat penonton rela duduk berlama-lama hingga subuh. Kini, mencari generasi penerusnya kian sulit.

Fakta itu terungkap, saat Dinas Kebudayaan Buleleng melakukan identifikasi kesenian di kecamatan-kecamatan.

Sejauh ini, identifikasi itu sudah dilakukan di Kecamatan Tejakula, Busungbiu, dan Gerokgak. Hasilnya, ada sejumlah kesenian yang ditinggalkan – jika tak ingin disebut punah.

Kendalanya sama, minat masyarakat untuk menyaksikan kesenian itu terjun bebas. Bahkan kini yang berminat menggeluti kesenian itu tak banyak.

Kabid Kesenian Disbud Buleleng Wayan Sujana mengatakan, rata-rata di tiap kecamatan memiliki kesenian yang unik. Seperti arja dan drama gong yang menjadi ciri khas.

Sujana mencontohkan Kecamatan Gerokgak. Di wilayah ini dulunya memiliki sekaa arja yang sangat disegani.

Sekaa ini bermarkas di Desa Patas. Selain arja, di Desa Sanggalangit juga terdapat kelompok drama gong. Namun kini kedua kesenian itu tak ditemukan lagi.

“Arja patas misalnya. Mereka hilang itu karena tidak ada yang mau meneruskan. Sebenarnya bisa saja dilanjutkan dengan merekrut sekaa shanti. Tapi ya itu tadi, penerusnya yang tidak ada,” kata Sujana.

Hal serupa juga menimpa nasib kelompok drama gong di Sanggalangit. “Dulu drama gong Sanggalangit itu terkenal. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Minat yang muda-muda terjun ke drama itu sudah hilang,” imbuhnya.

Alhasil kini di Kecamatan Gerokgak seni yang bertahan hanya seni-seni yang dibalut dengan ritual agama dan tradisi. Sebut saja gebung ende dan dewa ayu.

“Kedua kesenian ini sedikit banyak terbantu dengan ritual, sehingga mereka bisa lestari. Gebug ende misalnya, dari ritual sekarang

sudah jadi profan dan tetap bertahan karena ada ajang tontonan. Seperti festival atau pawai pembangunan,” katanya lagi.

Terhadap fakta itu, Sujana mengaku Disbud Buleleng akan berupaya membangkitkan kembali seni-seni tradisional yang sempat hilang itu. Terutama kesenian arja dan drama gong. 

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP