Sabtu, 23 Mar 2019
radarbali
icon featured
Travelling

Wujud Syukur, Warga Ababi Gelar Tradisi Langka Mejurag Nasi Takepan

07 Januari 2019, 17: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

wujud syukur, Warga Ababi, Tradisi Langka, Mejurag Nasi Takepan, Karangasem, warisan budaya, perayaan  Nyepi,

TRADISI LANGKA : Sejumlah warga sedang berebut nasi bungkung dalam ritual Mejurag Nasi Takepan, Minggu (6/1) (Wayan Putra)

AMLAPURA—Bagian dari ritual untuk menyampaikan rasa syukur sebelum Nyepi, warga Desa Ababi, Abang, Karangasem, Minggu (6/1) menggelar  tradisi mejurag nasi tekepan.

Tradisi langka yang digelar tepat tilem kepitu (bulan mati ketujuh) dilaksanakan di Pura Ulun Suwi menjelang Nyepi adat di desa tersebut.

Pada tilem kepitu ini digelar Nyepi untuk krama perempuan atau istri.

Sedangkanya nyepi untuk krama lanang atau laki laki biasa dilakukan saat sasih Keulu (bulan kedelapan).

Ritual awal Nyepi ini dilakukan di dua pura yang berbeda.

Tradisi mejurag nasi tekepan yang dilaksanakan di Pura Ulun Suwi Desa Abang sudah dilakukan saat Kuningan lalu.

Sementara saat Nyepi krama Lanang tradisi mejurang nasi tekepan akan dilakukan di Pura Dalem setempet pada bulan depan.

Kedua tradisi ini tidak jauh beda hanya tempat yang berbeda.

Kelian adat Ababi I Gede Pasek Ariana, pada saat gelaran tradisi mejurag nasi tekepan biasanya warga setempat berebut nasi yang di bungkus dengan daun enau atau jaka.

“Ini sebagai bentuk wujud syukur kerama desa adat Abai atas karunia kesuburan dan rejeki yang belimpah,”terangnya.

Sementara jumlah bungkus nasi ada 45 tekepan.

Sebelum di perebutkan juga di doakan di Pura Ulun Suwi. Nasi ini terdidi dari beberapa caru.

Sebelumnya juga diawali dengan persembahyangan di Pura Ulun Suwi.

Usai sembahyang di pura Ulun Siwi krama lanang yang membawa nasi takepan. Mereka berkerumun mengitari pura, mereka bersiap siap merebut nasi.

Mereka di pimpin para tetua desa kemudian bergerak dan meloncati pagar penyengker. 

Sementara nasi yang berhasil di rebut sebagian ada yang langsung dimakan atau dilungsur.

Sedangkan sebagian nasi juga di bawa pulang.

Nasi yang dibawa pulang ditaburkan di pekarangan rumah mirip dengan nasi taur.

Menurut kayakinan warga nasi Takepan ini lambang kemakmuran dan Amerta.

“Ini sebagai bentuk wujud syukur kami atas anugrah kesuburan yang berlimpah,” ujarnya.

Dimana bagi kepercayaan masyarakat setempat, nasi Takepan ini juga diyakini akan memberikan kesuburan.

Sementara nasi takepan yang di tebar di halaman rumah juga untuk memperlancar rejeki.

“Untuk kesuburan hasil pertanian dan juga kebun. Selain itu nasi Tekapan ini juga untuk menetralisir kekuatan jahat yang juga di simbulkan oleh Bhuta Kala,”tukasnya.

(rb/tra/pra/mus/JPR)

 TOP
Artikel Lainya