Rabu, 20 Mar 2019
radarbali
icon featured
Metro Denpasar

Bali Dilanda Pergerakan Semu Matahari, Waktu Siang Kini Lebih Lama

11 Januari 2019, 13: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

fenomena alam, pergerakan matahari, semu matahari, waktu siang lama, bmkg denpasar

FENOMENA ALAM : Sinar matahari memancar di kawasan Bypass Ngurah Rai, Sanur, Denpasar, kemarin menjelang petang (Miftahuddin Halim/Radar Bali)

DENPASAR – Hari-hari terakhir matahari terasa begitu terik. Bahkan, matahari bisa dinikmati begitu lama di Bali saat ini.

Mulai pukul 06.20 hingag 18.30 wita. Ternyata fenomena ini memang lazim terjadi setiap tahun bersamaan dengan datangnya musim hujan.

Kepala Bidang Data dan Informasi BBMKG Wilayah III Denpasar Iman Fatchurochman mengatakan bahwa saat ini sedang terjadi fenomena pergerakan semu matahari.

fenomena alam, pergerakan matahari, semu matahari, waktu siang lama, bmkg denpasar

(Adrian Suwanto/Radar Bali)

Posisi matahari sendiri saat ini ada di Belahan Bumi Selatan (BBS).  Sehingga  siang terasa lebih panjang dibandingkan malam hari.

“Salah satunya posisi matahari kan sedang di selatan equator (garis khatulistiwa) makanya di belahan bumi utara sedang musim dingin, sedangkan di selatan lebih hangat,” kata Iman.

Matahari terbit biasanya pukul 06.05 kini menjadi 06.20. Sedangkan saat terbenam lazimnya pukul 18.00 jadi 18.40 atau sampai 18.50.

“Telat 20 menit. Posisi matahari saat ini sedang berada di belahan bumi selatan, di sekitar wilayah Indonesia. Sehingga kami secara langsung menerima paparan dari sinar matahari hampir tegak lurus,” ungkapnya.

Maka tidak salah saat ini lebih terasa panas karena suhu mulai dari 28 derajat Celsius sampai 30 derajat Celsius.  Yang normal biasanya dari 22 sampai 35 derajat Celsius.

 Temperatur dipengaruhi derajat dan intensitas radiasi matahari ke permukaan bumi. Selain itu faktor kelembaban juga mempengaruhi temperatur.

Semakin rendah kelembaban, maka temperatur akan terasa lebih panas. “Kelembaban menunjukkan tingkat kebasahan udara,” tukasnya. 

Menurutnya, fenomena pergerakan semu matahari terjadi antara Desember hingga Maret. Karena paparan matahari bumi selatan lebih lama dan tinggi dibandingkan utara, maka angin akan bergerak dari monsoon Asia dari utara dan membawa uap air. 

Monsoon adalah fenomena perubahan iklim secara ekstrem yang terjadi akibat adanya perubahan tekanan udara secara ekstrem di kawasan daratan India dan Lautan Hindia.

”Lebih basah karena di utara sekarang sedang musim dingin,” tuturnya. Untuk itu, Iman meminta masyarakat seperti biasa mempersiapkan diri untuk hal yang tidak diinginkan.

Seperti beberapa hari lalu  di Jembrana muncul banjir bandang. Di Karangasem ada longsor. “Puncaknya di bulan Februari,” pungkasnya.  

(rb/feb/mus/JPR)

 TOP