Selasa, 21 Jan 2020
radarbali
icon featured
Dwipa

Mengerikan, Penderita HIV/AIDS di Jembrana Bali Terus Meningkat

19 Januari 2019, 14: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

penderita hiv/aids, penderita naik, dinkes jembrana

Ilustrasi (dok.jawapos.com)

Share this      

NEGARA – Berbagai upaya sudah dilakukan Pemkab Jembrana untuk menekan penyebaran HIV/AIDS. Namun, upaya itu masih mendapat berbagai kendala.

Justru jumlah penderita penyakit akibat virus yang menggerogoti kekebalan tubuh itu di Bumi Makepung semakin bertambah setiap tahun.

Langkah untuk menekan penyebaran HIV/AIDS yang selama ini sering dilakukan Pemkab Jembrana melalui Dinas Kesehatan.

Yakni dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Penyuluhan serta pelayanan terhadap  Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) sudah maksimal dilakukan.

Namun, karena menyangkut kebutuhan dasar (biologis)  sehingga hal itu menjadi kendala.

Selain itu  lamanya masa inkubasi virus HIV menjadi AIDS yakni sekitar 5 - 10 tahun, juga  menjadi hambatan tersendiri bagi petugas saat melakukan sosialisasi.

“Kesannya apatis, masyarakat jadi tidak percaya dengan  penjelasan petugas, karena akibatnya tidak seketika dalam beberapa hari seperti penyakit lain yang dampaknya langsung berasa.

Jadi,  saat sudah terkena mereka baru sadar dan itu sudah sangat terlambat karena virus sudah menyebar. Itu menjadi tantangan sekaligus kewaspadaan kita bersama,” ujar Kadis Kesehatan Pemkab Jembrana I Putu Suasta.

Berdasar data terbaru, antara rentang waktu tahun 2005 – 2018 jumlah penderita HIV AIDS di Jembrana mencapai 972 orang.

Jumlah itu yang sudah terpantau karena kemungkinan masih ada penderita yang tidak terpantau atau terdekteksi.

Tahun 2016 tercatat penambahan temuan positif baru sebanyak 106 orang, tahun 2017, 107 orang dan tahun 2018 jumlah itu bertambah lagi sebanyak 104 orang.

“Itu yang baru terpantau karena tren tiga tahun terakhir terus meningkat,” ujarnya. Lanjut Suasta, HIV /AIDS ini tidak memandang orientasi sexual, apakah heterosex, transgender atau homoseksual.

Juga tidak memandang profesi atau pekerjaan, seseorang, jabatan, kedudukan sosial, kecacatan dan lain.

“Yang berhubungan erat dengan penularan adalah perilaku seksnya. sehat atau tidak,” ungkapnya. Perilaku seks tidak sehat itu seperti bergonta-ganti pasangan tanpa memakai kondom.

Penularan lain yang bukan tergolong perilaku seksual, bisa melalui  transfusi darah, air susu ibu dan bayi yang tertular saat melahirkan.

“Meski orang itu cacat, miskin, hidup dalam kesusahan, yang menurut kita mustahil kena HIV tapi faktanya perilaku sex nya tidak sehat, tetap bisa kena,”tegasnya.

Meski masih ada kendala namun Dinas Kesehatan tetap berusaha dengan berbagai program serta langkah preventif.

Langkah- langkah  preventif itu di antaranya menggencarkan komunikasi informasi dan edukasi, memperkuat KSPAN dan kelompok sebaya di sekolah-sekolah,

memperkuat kader desa peduli AIDS serta  memperluas jejaring klinik VCT di semua Puskesmas dan rumah sakit termasuk Rutan Negara.

Termasuk dukungan pengobatan serta sarana prasarana dan melalui kebijakan test screening pada ibu hamil untuk mencegah penularan ke bayi dan deteksi lebih awal.

Hasilnya ada peningkatan kesadaran warga untuk memeriksakan diri. Selain itu Pemkab juga menginisiasi kelompok-kelompok beresiko untuk aktif memeriksakan diri seperti waria, pekerja lokalisasi.

Tahun 2018 jumlah warga yang memeriksakan diri dada 4.838 dan sekarang sudah menjadi 5.551 orang.

“Kami mengajak masyarakat agar mewaspadai bahaya penularan HIV AIDS diwilayahnya. Waspada karena penyakit ini tidak mengenal strata ataupun profesi.

Semua bisa kena, tergantung bagaimana kesadaran serta pola hidup masing-masing,” pungkasnya. 

(rb/nom/mus/JPR)

 TOP