Rabu, 19 Jun 2019
radarbali
icon featured
Hukum & Kriminal

Bebas saat Kajeng Kliwon, Ismaya Ngaku Ikhlas, Anggap Pembelajaran

21 Januari 2019, 06: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

ketut ismaya, bebas murni, sekjen laskar bali, lapas kerobokan, melukat pantai sanur

I Ketut Putra Ismaya Jaya bersama rekan-rekannya melukat di Pantai Padang Galak, Denpasar Selatan, usai bebas dari Lapas Kerobokan, Minggu pagi (20/1). (Istimewa)

Share this      

DENPASAR – Sekjen Laskar Bali, I Ketut Putra Ismaya Jaya, 40, dan koleganya I Ketut Sutama, 51 dan IGN Endrajaya, 28, resmi menghirup udara bebas.

Ketiganya keluar dari Lapas Kelas IIA Kerobokan, Badung, Minggu pagi (20/1) pukul 07.05, bertepatan dengan hari purnama dan kajeng kliwon.

Ismaya disambut hangat keluarga, kerabat, yang mengenakan pakaian adat Bali madya. I Putu Pastika Adnyana penasihat hukum Ismaya menyatakan,

bebasnya Ketut Ismaya merupakan bebas murni atau sudah sesuai dengan masa hukuman yang ditetapkan PN Denpasar.

Pada sidang putusan 28 Desember 2018 lalu, majelis hakim yang diketuai Bambang Ekapurta menghukum Ismaya dkk lima bulan penjara.

Namun, sebelum sidang putusan itu Ismaya sudah menjalai masa penahanan di kepolisian dan Lapas Kelas IIA Kerobokan.

“Kami sengaja meminta pembebasan pagi hari untuk menghindari keramaian dan ekspose. Pak Ismaya ingin suasana hening, nyaman, dan kondusif,” ujar Adnyana.

Karena itu pihaknya juga tidak mengerahkan anggota Laskar Bali untuk menyambut kebebasan Ketut Ismaya alias Keris.

Usai keluar dari lapas terbesar di Bali, itu, Ismaya dkk langsung menuju Pantai Padang Galak, Sanur, Denpasar Selatan, untuk melukat atau membersihkan diri secara spiritual.

Upacara melukat dipimpin Ida Begawan dari Griya Bantiran, Pupuan, Tabanan. Pastika menuturkan, proses melukat usai bebas ini selain sebagai bentuk penyucian diri dan bersyukur, juga semacam untuk membuang sial.

Kebetulan kemarin hari purnama bertepatan dengan hari kajeng kliwon yang dipercaya sebagai hari baik untuk melukat. Selain itu juga untuk memohon berkah.

“Pakaian yang dipakai saat berperkara dan di dalam (penjara) dilarung. Istilahnya untuk membuang segala kotoran yang tidak baik,” imbuhnya.

Dalam melukat selama 1,5 jam itu suasana terasa haru. Ini karena secara tidak sengaja Ismaya bertemu dengan simpatisannya.

Ismaya banjir ucapan selamat sekaligus ungkapan empati atas apa yang menimpa pria asal Karangasem itu.  

Menurut Adnyana, disela-sela melukat itu Ismaya diskusi dengan simpatisannya. “Pak Ismaya tidak ada rasa dendam, tidak ada perasaan yang tidak bagus. Semua sudah diikhlaskan. Menganggap ini semua sebagai pembelajaran,” ungkap Adnyana.

(rb/san/mus/JPR)

 TOP