Rabu, 20 Feb 2019
radarbali
icon featured
Hiburan & Budaya

Respons Penolakan RUU Permusikan, Ake Buleleng Luncurkan Klip Baru

06 Februari 2019, 23: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

Ake Buleleng, klip baru, Semangat Berkarya, RUU Permusikan, klip baru, musisi buleleng, musisi bali,

LUNCURKAN KLIP BARU : Ake Buleleng saat tampil di sebuah acara (Eka Prasetya)

Video klip baru itu juga diambil dari sebuah single baru yang berjudul “Semangat Berkarya”.

 Lagu itu sengaja ditulis untuk merespons Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan yang gencar ditolak para musisi.

Lagu berdurasi 2 menit dan 25 detik itu baru saja diproduksi beberapa pekan lalu.

Semula, band yang berhaluan pop alternative itu hanya berencana melempar single semata.

Belakangan mereka bertemu dengan Chris Sadeva, pemilik rumah produksi GOX Visual, hingga akhirnya sepakat membuat video klip dadakan.

Kuintet yang beranggotakan Gde Kurniawan (gitar), Ngurah Noky (bass), Budi Kurniawan alias Unyil (drum), Agus Adyatmika (vokal), dan Pande Unyil (vokal) itu pun menggarap video klip di Rumah Musik Demores.

Proses itu dilakukan secara cepat. Video klip digarap pada pukul 18.00 Senin (4/2) dan tuntas pada pukul 04.00 Selasa (5/2) dini hari. Kemudian dilepas pada Rabu (6/2) pagi.

“Ya sebenarnya ini dadakan saja. Sama sekali tidak ada rencana. Kebetulan kami ketemu dengan Gus Chris, kemudian ditawari video klip, ya sudah digarap saat itu juga,” ujar sang vokalis, Agus Adyatmika.

Sementara dari sisi lagu, kali ini Ake Buleleng mencoba mengeksplorasi peluang-peluang baru. Biasanya mereka memproduksi lagu-lagu dengan lirik mebasa Bali.

Namun dalam lagu Semangat Berkarya, mereka menulis lirik dengan Bahasa Indonesia.

Lirik lagu ditulis oleh Gde Kurniawan dan Agus Adyatmika. Sementara komposisi musik digarap Gde Kurniawan.

Lagu Semangat Berkarya sendiri sebenarnya sengaja ditulis untuk meresposn penolakan RUU Permusikan yang kini gencar disuarakan.

Para musisi di band Ake Buleleng pun sepakat ada beberapa pasal yang memang mengekang kebebasan musisi dalam berkarya.

“Kami mencoba merepons penolakan itu dengan cara membuat karya. Makanya kami tulis dengan Bahasa Indonesia. Harapannya apa yang menjadi aspirasi kami dalam penolakan RUU ini, bisa didengar banyak orang,” pungkasnya.

(rb/eps/pra/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia