Senin, 20 May 2019
radarbali
icon featured
Politika
Desa Sangkan Gunung Dilirik Investor Asing

I Kadek Sujanayasa: Kami Tak Ingin Jadi Penonton

07 Februari 2019, 19: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

pemilu 2019, partai nasdem, caleg dprd, desa sangkan gunung, investor asing

I Kadek Sujanayasa, S.H., caleg DPRD Karangasem nomor urut 1 dapil IV (Selat, Sidemen, Rendang) dari Partai NasDem (Istimewa)

KARANGASEM - Desa Sangkan Gunung, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem mulai bangun dari tidur panjang.

Merasa menjadi penonton saat potensi alam di desa seluas 5,85 kilometer persegi itu mulai dikuasai investor asing, sembilan banjar dinas,

yakni Banjar Dinas Mijil, Ipah, Sangkan Gunung, Ogang, Sanggem, Pakel, Dukuh, Semseman, dan Luah mulai berbenah.

I Kadek Sujanayasa dan warga lokal setempat kini sedang berkutat dengan aturan serta menyiapkan sumber daya manusia (SDM) agar ke depan investor luar “angkat kaki” dari Desa Sangkan Gunung.

“Ajeg Bali harus dimulai dari tingkat desa. Jika masyarakat desa banyak yang nganggur alias tidak memiliki penghasilan tetap, maka ajeg Bali hanya slogan tong kosong belaka.

Satu hal yang harus dilakukan adalah membangun desa,” ucap politisi yang akrab disapa Kresek itu, Kamis (7/2) sore.

Di mata Ketua Komisi II DPRD Karangasem ini, arus urbanisasi, yakni perpindahan penduduk dari desa ke kota menjadi tantangan paling berat untuk mewujudkan ajeg Bali.

Masyarakat lebih memilih meninggalkan desa untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Tantangan lain yang paling krusial adalah berkurangnya jumlah pangempon (pengurus) pura sekaligus macetnya roda perputaran ekonomi desa.

“Dalam rangka menangkal arus urbanisasi inilah kami menggarap potensi Desa Pakraman Sangkan Gunung, Kecamatan Sidemen. Desa Sangkan Gunung terdiri dari 5 desa pakraman. Desa Pakraman Sangkan Gunung dengan 4 banjar yang pertama yang saya garap,” ucap Ketua Garda Pemuda NasDem itu.

Caleg Partai Nasdem
pemilu 2019, partai nasdem, caleg dprd, desa sangkan gunung, investor asing

Pendukung militan I Kadek Sujanayasa, S.H. (Istimewa)

Sujanayasa mencontohkan Banjar Luah memiliki potensi panorama sawah yang sangat memikat. Buktinya, banyak wisatawan asing yang tracking di areal persawahan itu.

Sayangnya, karena belum dikelola maksimal, maka belum ada retribusi atau pemasukan ke Desa Sangkan Gunung, baik dinas maupun adat.

Mirisnya, geliat potensi ini, imbuh caleg DPRD Karangasem nomor urut 1 Partai NasDem dapil IV (Selat, Sidemen, Rendang) sudah “diendus” pihak luar.

Tiga homestay telah dibangun. Tapi, lagi-lagi belum ada kontribusi bagi masyarakat setempat. “Kami tidak bisa menyalahkan pihak perusahaan lantaran belum memberikan kontribusi.

Pasalnya, pengelolaan dari awal mereka sendiri yang melakukan. Sekaranglah saatnya kita mulai bergerak mengembangkan desa agar bisa hidup dan makmur di tanah sendiri. Tidak harus ke kota,” jelas politisi murah senyum itu. 

Di Banjar Dinas Sangkan Gunung, potensi yang mencolok adalah keberadaan pura bersejarah peninggalan kerajaan Sangkan Gunung.

Di salah satu titik berupa bukit yang menjulang tinggi dibangun meru tumpang sebelas. Pemandangan yang ditawarkan sungguh luar biasa.

“Wisata nyegara gunung. Dari lokasi ini Gunung Agung terlihat juga hamparan laut. Potensi ini juga belum ditata padahal sudah menjadi incaran turis mancanegara,” tandasnya.

Para wisatawan tersebut juga banyak yang memutuskan menginap menanti sensasi matahari terbit di antara perbukitan.

Wisata agro dan sumber mata air Tirta Sudamala di Banjar Semseman juga memikat. Di sana juga mengalir Air Terjun Belatuk yang memesona.

Caleg Partai Nasdem
pemilu 2019, partai nasdem, caleg dprd, desa sangkan gunung, investor asing

I Kadek Sujanayasa, S.H. bersama istri tercinta, Ni Ketut Mudiani (Istimewa)

“Potensi luar biasa ini juga sama sekali belum digarap. Akses jalan pun belum ada. Namun ini tak jadi hambatan karena turis mancanegara suka yang alami.

Hambatan yang berarti adalah pembinaan sumber daya manusia dan ini sedang kami garap,” sambung politisi berkepala plontos itu.

Kenapa harus digarap? Sujanayasa menyebut demi pemberdayaan masyarakat lokal. Banjar Dinas Pakel, sambung Sujanayasa memiliki potensi dan topografi alam yang jauh lebih memikat dibandingkan Ubud, Gianyar.

Di banjar dinas ini juga terdapat dam (bendungan) Bajing. “Arum jeram di lokasi ini luar biasa. Sayangnya, meski banyak turis karena kita masyarakat setempat belum mampu mengelola

secara mandiri, akhirnya hanya jadi penonton. Duit masuk ke kantong investor. Inilah yang membuat saya gerah sebagai orang lokal,” tegasnya.

Tak tinggal diam, Sujanayasa tergerak untuk membangun desa wisata di 9 banjar dinas Desa Sangkan Gunung.

“Kita sudah membentuk Pokdarwis (kelompok sadar wisata). Ke depan kita bercita-cita potensi ini semua dikelola secara mandiri, tanpa campur tangan investor luar. Bila ada investor, maka itu adalah investor adat,” tegasnya.

Kepada Jawa Pos Radar Bali, Sujanayasa mengaku tidak sudi investor luar bercokol di Desa Sangkan Gunung seterusnya dan di sisi lain masyarakat setempat hanya jadi penonton.

“Kemampuan mengelola desa adat inilah yang sedang kami godok. Intinya semua komponen dari lintas profesi berkumpul untuk menggarap potensi desa secara bersama-sama,” terangnya.

Tak sampai di situ, Sujanayasa menyebut pararem (aturan) juga sedang digodok pihak desa adat. “Ada 48 pasal draf yang kita (DPRD Karangasem, red) buat. Sementara pembahasan oleh pihak desa adat baru 14 pasal,” tuturnya.  (rba)

(rb/ken/mus/JPR)

 TOP