Rabu, 20 Feb 2019
radarbali
icon featured
Features
Kreativitas Bank Sampah Cemara Pangkung

Konversi Sampah Plastik Jadi Minyak, Bisa Dipakai untuk Motor Vespa

08 Februari 2019, 03: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

bank sampah, cemara pangkung, sampah plastik, motor vespa

JADI MINYAK: Putu Punda Rika Diwara saat berada di mesin pengolah sampah plastik dan menunjukkan hasil daur ulang sampah plastik menjadi minyak di bank sampah Cemara Pangkung, di Desa Delod Peken, Tabanan. (Juliadi/Radar Bali)

Sampah plastik memang menjadi masalah. Bahkan, akhir-akhir ini, gerakan mengurangi sampah plastik di Bali begitu menggema.

Namun, Bank Sampah Cemara Pangkung di Desa Delod Peken, Tabanan, sampah plastik didaur ulang menjadi produk yang bermanfaat. Seperti apa?

 

JULIADI, Tabanan

TIDAK sulit menemukan lokasi Bank Sampah Cemara Pangkung. Karena berada di Jalan Werkudara, persis di belakang Kantor Bupati Tabanan.

Ketika Jawa Pos Radar Bali bertandang ke bank sampah tersebut kemarin (6/2), seorang anak muda menyambut dengan ramah.

Dia adalah Putu Punda Rika Diwara, anak dari pemilik sekaligus pengelola Bank Sampah Cemara Pangkung.

Punda tak langsung meladeni perbincangan dengan Jawa Pos Radar Bali. Dia mempersilakan menunggu sebentar, lalu menghilang untuk memanggil sang ayah.

Dalam sekejap, yang dipanggil pun datang menemui. Nengah Suarta, namanya. Suarta lantas bercerita, bank sampah ini memang menerima sampah rumah tangga dari warga sekitar.

Bank sampah ini bisa memproduksi bahan bakar minyak dan pupuk kompos cair. Katanya, minyak bisa dihasilkan melalui daur ulang sampah plastik.

Menurutnya, mesin ini awalnya milik club motor Nokken Ass Tabanan yang waktu itu diberikan oleh Dimas, salah satu pembuat dan pencetus mesin pengolah sampah dari komunitas Get Plastik.

Kebetulan beberapa waktu lalu bersama club motor Nokken Ass Tabanan kampanye daur ulang sampah plastik di Lapangan Alit Saputra, Dangin Carik, Tabanan.

“Sehingga saya disuruh membawa mesin ini agar dapat mengolah sampah plastik menjadi minyak. Dia bilang, “Pak Nengah bawa saja mesin pengolah sampah plastik.

Siapa tahu dapat digunakan dan dapat mengedukasi masyarakat terkait pengolahan sampah plastik. Kemudian saya mencoba mesin ini dan sudah mampu mendaur ulang sampah plastik menjadi minyak,” tuturnya.

Cara kerja dari mesin tidak begitu sulit. Bahkan, tergolong sangat mudah. Sampah plastik apapun bentuk dan wujudnya, asal dalam kondisi kering dimasukkan ke dalam

mesin pengolah dengan waktu pembakaran sekitar 4 jam lebih dan panas api pembakaran antara 350 derajat sampai 400 derajat Celsius.  

“Dari 10 kilogram sampah plastik mampu menghasilkan minyak sekitar 10 liter. Minyak yang dihasilkan hampir sama dengan minyak tanah.

Namun dari penelitian yang dilakukan oleh Komunitas Get Plastik, hasil minyak pengolahan sampah dapat digunakan untuk bahan bakar motor Vespa,” terangnya.

Dia menambahkan detail apa saja bahan dan alat pembuatan mesin pengolahan sampah plastik hanya Dimas yang tahu.

Karena Dimas yang merakit sendiri. Bank sampah hanya diberikan mesin agar dapat mengolah sampah plastik.

“Meskipun mesin ini terbilang kecil dan tidak mampu menghasilkan minyak dalam jumlah yang besar, tetapi mampu memberikan edukasi

kepada masyarakat untuk mengurangi sampah plastik yang ada di perumahan warga Banjar Pangkung, Desa Delod Peken,” ungkap dia.

Dengan adanya mesin ini, Suarta berharap nantinya ada seseorang yang akan menyempurnakan mesin pengolah sampah plastik.

Karena saat ini pembakaran sampah belum begitu maksimal. “Mungkin nanti ada yang mau menyempurnakan mesin ini, dan juga ada yang menemukan kandungan

untuk pencampuran minyak yang dihasilkan sampah plastik. Sehingga minyaknya mampu digunakan untuk bahan bakar kendaraan sepeda motor apapun,” ujarnya.

Selain mengolah sampah plastik menjadi minyak, Bank Sampah Cemara Pangkung juga mendaur ulang sampah organik menjadi pupuk cair.

Dijelaskan Nengah Suarta, kalau pupuk cair dari sampah organik sudah banyak yang mengolah, karena alat sederhana dan cara kerja mudah.

Cukup sampah organik dimasukkan ke dalam drum atau bak, kemudian difermentasikan selama seminggu atau dua minggu lebih, dicampur dengan air sedikit.

Sampah tersebut kemudian membusuk. Sekian lama baru menghasilkan pupuk cair. “Pupuk cair ini dapat digunakan segala jenis tanaman. Kalau saya gunakan untuk tanaman anggrek,” tandasnya. (*)

(rb/jul/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia