Kamis, 21 Mar 2019
radarbali
icon featured
Radar Jembrana

Rumah Hancur Diterjang Banjir, Ibu Lumpuh, Anak ODGJ, Jalan pun Ngesot

13 Februari 2019, 11: 29: 00 WIB | editor : ali mustofa

rumah hancur, hujan lebat, ibu lumpuh, anak odgj, warga asing

Pasangan ibu dan anak Nyoman Neri, 80, dan anaknya Gusti Ketut Sutama, 38, terbaring lemah di rumah kerabatnya (Anom Suardana/Radar Bali)

NEGARA – Meski korban banjir bandang di sungai Biluk Poh, Mendoyo sudah mulai bisa beraktivitas, namun masih ada korban yang sangat membutuhkan bantuan.

Mereka adalah keluarga miskin yang mengalami sakit parah yang rumahnya hanyut diterjang banjir.

Keluarga korban banjir bandang yang kini sangat membutuhkan bantuan adalah Nyoman Neri, 80, dan anaknya Gusti Ketut Sutama, 38, warga banjar Anyar Kelod, Penyaringan, Mendoyo.

Saat ini Neri yang menderita diabetes dan lumpuh serta Sutama yang ODGJ dan sering mengamuk serta sudah dua kali dirawat di RSJ Bangli menderita lumpuh, masih menumpang di rumah kerabatnya.

Karena rumah kerabatnya kecil, mereka terpaksa ditempatkan di kamar sempit dengan alas seadanya. Neri sebelum sakit akibat diabetes memang mengalami cacat karena tertimpa pohon pisang tahun 1975 lalu sehingga berjalan ngesot.

Dia tinggal di tegalan milik keluarga di pinggir pantai Banjar Anyar Kelod dan sempat mendapat bantuan bedah rumah CSR salah satu bank. 

Saat banjir bandang terjadi, Neri sedang menjalani rawat inap di rumah sakit. Sementara yang tinggal di rumahnya hanya Sutama yang sebelumnya menjadi tukang kebun di Pekutatan, mengalami gangguan jiwa sejak 6 tahun lalu.

“Saat banjir bandang terjadi rumah saya hanyut. Saat itu saya sudah di rumah kerabat ini dan anak saya selamat,” ujar Neri kemarin.

Mereka kini hanya bisa terbaring lemah dan untuk berbagai keperluan dilayani oleh menantu dari cucu tirinya Komang Indrayanti.

"Kami tidak tega melihatnya. Meski kami keluarga kurang mampu, namun demi kemanusiaan kami berusaha merawat dengan baik," ujar Indrayanti.

Sebenarnya mereka juga tidak tega menempatkan nenek dan pamannya dalam satu kamar sempit apalagi tidur di bawah dengan kasur lipat.

Namun, karena hanya memiliki kamar itu maka mereka terpaksa ditempatkan disana. Mereka sangat berharap nenek dan pamannya segera mendapatkan bantuan bedah rumah.

"Kami berharap bantuan dari pemerintah dan donator agar diberikan bedah rumah," harapnya.

Kelian Banjar Anyar Kelod Desa Penyaringan, Mendoyo, Kadek Winastra, mengatakan, untuk warganya yang miskin dan sakit parah itu sudah diusulkan untuk mendapat bedah rumah.

"Semua yang rumahnyayang hanyut kami usulkan bedah rumah termasuk kedua warga kami yang sakit itu. Mudah-mudaha segera terealisasi," ungkapnya.

(rb/nom/mus/JPR)

 TOP