Kamis, 18 Jul 2019
radarbali
icon featured
Ekonomi

Harga Selangit, Songket Alam Jembrana Kian Diburu Kolektor Kelas Atas

17 Februari 2019, 18: 37: 45 WIB | editor : ali mustofa

harga selangit, songket alam, kolektor kelas atas, dekranasda jembrana

Songket alam yang dipajang di pameran yang digelar Dekranasda Jembrana (Istimewa)

Share this      

NEGARA – Keberadaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Jembrana cukup banyak menghasilkan berbagai macam kerajinan.

Salah satunya adalah kain songket khas Jembrana yang disebut songket alam. Songket alam itu memang sudah ada dsejak zaman kerajaan.

Kain yang dihasilkan perajin tenun tradisonal itu sebelumnya hanya dipakai oleh raja maupun bangsawan.

Namun, seiring perkembangan zaman, kini kain songket yang proses pembuatanya cukup rumit dan lama itu sudah banyak dikenakan oleh masyarakat.

Karena harganya mahal, songket alam itu lebih banyak diburu kalangan masyarakat ekonomi menengah ke atas.

“Songket alam ini harganya cukup mahal namun banyak diburu kolektor atau penggemar kain,” ujar petugas Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Ely Septiawati.

Meski termasuk kain langka, namun songket alam itu menjadi salah satu produk unggulan yang dipromosikan distan Dekranasda dilantai bawah Gedung Kesenian Bung Karno. 

Songket alam itu juga baru menjadi koleksi Dekranasda yang sebelumnya hanya mempromosikan kerajinan dari bambu, kayu,  logam dan  batu.

“Songket alam ini dihasilkan penenun yang tersebar  disejumlah  sentra tenun  yakni Mendoyo  Dauh Tukad, Samblong Sangkar Agung, serta  Batuagung. Saat ini ada empat jenis songket alam yang kita pajang,” terangnya. 

Songket alam yang dibuat penenun cagcag dan penenun ATBM itu memang prosesnya cukup lama. Sebab untuk mewarnai benang yang akan ditenun

mengunakan pewarna dari bahan- bahan yang berasal dari alam yang harus diproses dahulu untuk menghasilkan warna yang diinginkan.

“Penenunya juga dengan cara tradisional sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama,” ungkapnya.

Satu lembar kain songket alam itu dihargai Rp  4-5 juta. Meski harganya mahal, namun songket alam tetap diburu. Terbukti di setiap pameran Dekrasnasda, selalu banyak yang terjual.

 “Di Dekranasda ini hanya promosi, jika ada yang mencari banyak, kita akan langsung  tunjukan ke pengerajinnya  yang  sudah menjadi binaan  dewan kerajinan. Saat ini songket alam sangat laku,” pungkasnya. 

(rb/nom/mus/JPR)

 TOP