Rabu, 24 Apr 2019
radarbali
icon featured
Travelling

Potensi Budaya Berserakan, Desa Beratan Dirancang Jadi Desa Wisata

28 Februari 2019, 09: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

rumah tua, potensi budaya, desa beratan, desa wisata, dispar buleleng

Rumah tua di Desa Pakraman Beratan Samayaji (Eka Prasetya/Radar Bali)

SINGARAJA – Desa Pakraman Beratan Samayaji akan dirancang menjadi desa wisata. Desa pakraman yang berada di pintu masuk sisi selatan Kota Singaraja ini,

dianggap memiliki banyak potensi budaya dan kerajinan, yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara.

Rencana desa wisata itu dicetuskan Kelian Desa Pakraman Beratan Samayaji Ketut Benny Dirgariawan.

Menurutnya Beratan memiliki banyak potensi, namun belum dikembangkan secara optimal. Padahal dari sisi sejarah, Beratan Samayaji sempat menjadi lokasi tujuan wisata pada masa kolonial.

Benny menuturkan di wewidangan Beratan Samayaji ada beberapa potensi yang dapat digali. Mulai dari keberadaan rumah tua, kerajinan perak dan emas, serta kerajinan tenun songket.

Itu belum termasuk potensi wisata budaya dan sejarah di Pura Bale Agung Beratan Samayaji.

“Kami ingin wisatawan itu melakukan perjalanan wisata di desa kami sehari penuh. Entah itu ke pura, ikut kegiatan di sekolah, ikut terlibat dalam pembuatan kerajinan,

sampai cooking class. Sumber daya manusia kami sangat siap, potensi juga ada. Itu akan kami optimalkan,” kata Benny saat ditemui Rabu (27/2) siang.

Lebih lanjut Benny mengatakan, saat ini sudah banyak wisatawan mancanegara yang tertarik dengan potensi di Beratan Samayaji.

Terutama wisatawan dari Eropa. Pihaknya pun akan berupaya memaksimalkan potensi yang ada.

Salah satu potensi yang sangat diminati wisatawan adalah keberadaan lima unit rumah tua di Beratan Samayaji.

Rumah tua itu hanya ada di lahan milik Made Adi Wirawan, Ketut Dibia, Kadek Beri Supardika, dan Made Yastina.

Sementara itu salah seorang warga pemilik rumah tua, Kadek Beri Supardika mengaku sengaja mempertahankan rumah tua itu, karena menjadi warisan dari leluhur.

“Sama sekali tidak ada pikiran mau membongkar. Itu sudah peninggalan leluhur. Jadi saya biarkan saja apa adanya,” katanya. 

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP