Selasa, 20 Aug 2019
radarbali
icon featured
Travelling

Mebat, Tradisi Kuliner yang Terancam Punah, Ini Langkah Disbud...

09 Maret 2019, 15: 28: 48 WIB | editor : ali mustofa

tradisi mebat, tradisi kuliner, disbud karangasem

Tradisi mebat di Karangasem terancam punah. Hanya sebagian kecil masyarakat yang meneruskan tradisi ini (Wayan Putra/Radar Bali)

Share this      

AMLAPURA - Karangasem dikenal memiliki tradisi kuliner yang cukup unik yakni mebat. Mebat sendiri adalah cara membuat dan mengolah kuliner tradisional Bali.

Usai mebat biasanya dikaitkan dengan tradisi megibung. Menurut Dinas Kebudayaan Karangasem belakangan ini tradisi tersebut mulai punah.

Hanya beberapa desa yang masih melakukan tradisi tersebut. Sebagian warga sudah tidak mebat lagi ketika ada upacara adat atau menggelar resepsi.

Warga memilih menggunakan cetering. Mebat sendiri sebenrnya mengandung maka estetika yang tinggi.

Selain mebat, beberapa seni tari di Karangasem juga ada yang nyaris punah. Kalau tidak segera di lakukan restorasi bukana tidak mungkin tradisi tersebut akan menghilang.

Mebat sendiri merupakan cara membuat masakan kas Bali dengan bumbu yang juga khas. Di beberapa Desa di Karangasem tradisi ini memang masih ajeg.

Di antaranya di Desa Pakraman Duda, Selat, Muncan dan juga di Sibetan.  Di desa desa ini mebat biasanya dilakukan saau upacara besar seperti Galungan dan Ngusaba.

Sehingga setiap warga masyarakat bisa mebat karena wajib melestarikan tradisi ngusaba tersebut. karena sarana yang di pergunakan dalam Ngusaba berupa ebatan atau makanan kas Bali seperti sate, dan juga lawar.

Selain itu setiap orang yang memiliki karya atau kegiatan Yadnya baik manusa yadnya maupun pitra yadnya juga biasanya akan mebat. Ini merupakan tradisi menjamu tamu versi orang Bali.

Kadis Kebudayaan Putu Arnawa mengakui kalau mebat memang mulai punah. “Sekarang ini orang menikah sudah menggunakan cetering,” ujarnya.

Alasannya lebih simple dan juga irit. Selaian itu mebat juga sulit karena harus trampil dalam mengolah bumbu.

Sementara itu kelamahan dari tradisi ini adalah terksan kurang higinenis. Sehingga wisatawan juga kurang berminat.

Namun jika dilakukan dengan higienis, maka wisman akan sangat senang. Karena mereka sebenarnya suka sate dan lawar.

Selain itu cara pengolahanya cara penyajianya juga harus di perbaiki kalau untuk wisatawan. Arnawa sendiri masih mencari solusi agar tradisi ini tidak sampai punah.

Karena itu pihaknya mendorong beberapa desa adat dan seke teruna untuk menggelar lomba mebat.

Belajar mebat sendiri selama ini hanya dilakukan di banjar banjar dan juga rumah warga yang punya hajatan.

Karena itu dirinya berharap ikon tersebut terus dipertahankan. Jangan sampai semua diganti dengan yang siap saji.

“Kalau mebat punah maka mengibung juga akan punah,” ujarnya. Karena tradisi ini saling berkaitan.

Sementara itu menurut seorang ahli mebat atau belawa, Gede Dugdug dari Abang, minimnya kalangan muda belajar mebat karena memang sulit dan agak ruwet.

Ini harus dilakukan dengan teliti dari persiapan daging yang banyak. Yang tidak kalah bumbu yang disiapkan juga harus lengkap.

Cara meramunya juga harus pas sehingga masakan jadi enak. Untuk diketahui di Karangasem ada beberapa jenis sate.

Di antaranya adalah Sate Pusut yang berbahan daging, sate asem dengan kulit daging dan jenis sate lainya seperti Kuung dengan dan juga sate gunting.

Selain sate dan lawar juga ada yang dikenal dengan urutan. Sementara lawar yang di buat juga berbagai jenis termasuk lawar merah dan juga lawar putih.

Ada juga sayur menggunakan daun blimbing dan yang lainya. ada sekitar lima jenis olahan cici khas Karangasem yang selama ini kerap di sajikan.

“Prosesnya lama makanya kalangan muda enggan melajar,” ujarnya. “Kalau odalan di Pura Puseh atau dimana wajib mebat kalau di desa kami,” ujar Penyerikan Desa adat Geriana Kangin Jro Mangku Diatmika.

(rb/tra/mus/JPR)

 TOP