Senin, 09 Dec 2019
radarbali
icon featured
Radar Buleleng
Menyambut HUT Kota Singaraja Ke-415

8.000 Ibu-Ibu Dari 169 Desa Bakal Ngayah Jadi Penari Rejang Renteng

12 Maret 2019, 22: 49: 01 WIB | editor : ali mustofa

HUT Kota Singaraja, HUT ke 415, Pemkab Buleleng, Tari Rejang Renteng, 169 Desa Pekraman,

JUMPA PERS : Suasana jumpa pers persiapan HUT Kota Singaraja ke-415 (Eka Prasetya)

Share this      

SINGARAJA – Sedikitnya 8.000 orang penari rejang renteng akan memeriahkan peringatan HUT Kota Singaraja ke-415.

Ribuan penari itu, akan menarikan Tari Rejang Renteng secara massal, tepat pada hari jadi Kota Singaraja ke-415, yakni pada 30 Maret mendatang.

Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Buleleng Gede Suyasa mengatakan, ribuan penari itu berasal dari 169 desa pakraman di Buleleng.

Para wanita di desa pakraman, akan ngayah menarikan tari yang kini sedang hits itu. Tari itu sekaligus wujud rasa syukur atas usia Kota Singaraja yang makin dewasa.

Menurutnya tari rejang renteng massal dipilih atas sejumlah pertimbangan. Salah satunya hasil workshop di Taman Budaya Bali pada 25 Februari silam. Dalam workshop itu mengemuka bahwa Tari Rejang Renteng akan dijadikan tari wali, bukan lagi tari bebali yang berkembang seperti saat ini.

“Kami ingin ambil peran dalam hal itu. Sehingga ibu-ibu yang ada di Buleleng bisa menarikan tari rejang renteng sesuai dengan pakemnya, seperti yang sudah dijelaskan dalam workshop itu. Sehingga saat jadi tari wali, semua sudah siap ngaturang ayah menarikan rejang renteng,” kata Suyasa.

Lebih lanjut Suyasa mengatakan, masing-masing desa pakraman rencananya akan mengerahkan sedikitnya 50 orang ibu-ibu untuk menarikan tari tersebut. Dari total 169 desa pakraman di Buleleng, diperkirakan ada 8.450 orang penari yang ikut ambil bagian dalam parade tersebut.

Nantinya dalam parade tersebut, ungkap Suyasa, kendala teknis yang dihadapi adalah masalah sound system yang kemungkinan besar mengalami delay. Sehingga para penari tidak bisa melakukan gerak yang seragam.

Dari hitung-hitungan panitia, para penari akan menari dari Tugu Singa Ambara Raja hinggake Jalan Ngurah Rai, tepatnya di depan Hardy’s Singaraja. Dalam jarak sejauh 1,5 kilometer itu, dibutuhkan sound yang andal sehingga tidak terjadi delay suara saat menari.

“Ini tantangan yang cukup berat. Butuh sound yang kuat supaya tidak delay. Tapi kami sudah koordinasi dengan teknisi, dan mereka sudah siap mengatasi hal itu,” tukasnya.

(rb/eps/pra/mus/JPR)

 TOP