Senin, 18 Nov 2019
radarbali
icon featured
Politika
Respons Caleg Karatan di Pemilu 2019

Gung Ronny: Reformasi Lahirkan “Soeharto-Soeharto Baru”

17 Maret 2019, 13: 48: 53 WIB | editor : ali mustofa

pemilu 2019, caleg dprd bali, caleg nasdem, gus ronny, soeharto baru

I Gusti Agung Ronny Indra Wijaya S., caleg DPRD Provinsi Bali no.urut 5 dari Partai NasDem Dapil Denpasar. (Istimewa)

Share this      

DENPASAR - Hari penentuan masa depan Indonesia tinggal beberapa hari lagi. Joko Widodo-Ma'ruf Amin sejauh ini masih diunggulkan beberapa lembaga survei ternama.

Dengan kata lain, Jokowi dua periode sudah di depan mata. Namun, ternyata banyak caleg yang dipastikan mengungguli capaian Jokowi

lantaran sudah 3-4 periode (15-20 tahun) duduk sebagai wakil rakyat (legislator) dan masih tetap tetap bertarung 17 April 2019 mendatang.

Sajian menu caleg karatan ini direspons serius oleh I Gusti Agung Ronny Indra Wijaya S., caleg DPRD Provinsi Bali no.urut 5  dari Partai NasDem Dapil Denpasar.

Kepada Jawa Pos Radar Bali, Minggu (17/3), Gung Ronny menyebut gerakan reformasi jilid II harus dilakukan, terutama menyangkut perbaikan tatanan perikehidupan dalam bidang politik, ekonomi, hukum, dan sosial.

Dikatakannya, reformasi sebagai koreksi terhadap rezim Orde Baru telah melahirkan berbagai capain positif.

Antara lain menyangkut kebebasan pers, kebebasan berserikat, otonomi daerah, dan liberalisasi politik. Indonesia juga dinobatkan sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

Namun, jelas Gung Ronny, harus diakui pula bahwa persoalan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), kesenjangan,

serta kepincangan sosial, kemiskinan, dan tumpukan persoalan lain masih menjadi pekerjaan rumah hingga lebih dari dua dekade reformasi.

Caleg DPRD Bali dari Nasdem
pemilu 2019, caleg dprd bali, caleg nasdem, gus ronny, soeharto baru

I Gusti Agung Ronny Indra Wijaya S., caleg DPRD Provinsi Bali no.urut 5 dari Partai NasDem Dapil Denpasar saat berdialog dengan konstituen (Istimewa)

Mewabahnya dinasti politik di Bali terang Gung Ronny menjadi potret buram wajah politik Pulau Dewata.

Termasuk posisi para caleg karatan yang dia sebut dengan istilah “keenakan duduk lupa berdiri”; hanya ajal atau kematian yang mampu memutus nafsu politik mereka.

“Jokowi saja dua periode. Anda kok sudah 3-4 periode, 15-20 tahun jadi wakil rakyat belum puas juga? Kapan Bali ini bisa maju kalau yang tua-tua tidak mau mengalah padahal sudah seharusnya menjalankan Wanaprasta Ashrama sesuai ajaran Hindu?” tanya Gung Ronny.

Politisi murah senyum ini juga menyentil implementasi otonomi daerah yang sarat kepentingan. Dengan kata lain, otonomi daerah yang dimaksudkan

untuk akselerasi pembangunan ternyata justru melahirkan "raja-raja kecil" alias Soeharto-Soeharto baru yang justru menghambat pembangunan nasional.

“Harus diakui Soeharto-Soeharto baru ini diduga kuat berhasil mempengaruhi supremasi atau penegakan hukum di Bali.

Imbasnya jelas. Pemerintahan yang tidak bebas KKN. Jual beli jabatan yang menyebabkan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M. Romahurmuzy kena

OTT KPK juga marak loh di Bali,” tegas pria yang mengaku pernah ditangkap Garnisun di era Orde Baru karena mengibarkan bendera PDI.

Inilah alasan kuat Gung Ronny mengaku kembali terjun ke panggung politik setelah lama awam. Dia menilai begitu banyak kelompok masyarakat yang bermain hakim sendiri dan bertindak layaknya aparat berwajib.

Caleg DPRD Bali dari Nasdem
pemilu 2019, caleg dprd bali, caleg nasdem, gus ronny, soeharto baru

I Gusti Agung Ronny Indra Wijaya S., caleg DPRD Provinsi Bali no.urut 5 dari Partai NasDem Dapil Denpasar dengan kader Nasdem (Istimewa)

Mirisnya, dia juga mensinyalir para punggawa hukum di Bali kerap “masuk angin”. “Restorasi Indonesia mutlak dibutuhkan. Reformasi telah kehilangan arah, dan bahkan cenderung

menyimpang dari norma-norma hukum. Mari, dengan rendah hati kita koreksi bangsa ini, Pulau Bali ini, demi hidup yang lebih baik,” tegasnya.

Disinggung soal siapa saja politikus rakus kekuasaan di Bali sehingga layak berlabel “Soeharto-Soeharto baru”, Gung Ronny tidak menyebut nama namun menjawab ada di setiap jenjang jabatan, baik DPRD tingkat I, II, maupun DPR RI.

“Saya pengagum Bung Karno. Beliau berkata, beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia. Nah, kalau yang berpolitik dan menang mereka yang tua-tua dan karatan semua, kapan politisi muda Bali akan menggoncangkan dunia?” tandasnya.

Gung Ronny juga sangat berharap masyarakat Bali, khususnya Kota Denpasar lebih cerdas memahami caleg yang membawa hibah. Sebab uang tersebut 100 persen uang rakyat, bukan uang si caleg.

“Jangan mau dibodoh-bodohi. Oh ya, masyarakat Denpasar yang dana hibahnya dipotong alias berbeda dengan yang ditandatangani harus berani bicara.

Jangan diam! Para makelar alias bhutakala hibah ini harus dibersihkan sesegera mungkin demi Denpasar yang lebih bermartabat,” tutupnya. (rba)

(rb/ken/mus/JPR)

 TOP