Rabu, 13 Nov 2019
radarbali
icon featured
Features
Hoax di Mata Praktisi Informasi dan Teknologi

Saring Sebelum Sharing, Pastikan Sumber Berita Kredibel

17 Maret 2019, 22: 30: 59 WIB | editor : ali mustofa

berita hoax, akun medsos, akun parpol, praktisi it

Baliho stop hoax terpasang di Jalan Bypass Ngurah Rai, Sanur (Miftahuddin Halim/Radar Bali)

Share this      

Hoax atau berita bohong diciptakan dengan sengaja oleh pihak tertentu. Menyasar kalangan tertentu dengan tujuan tertentu pula.

Berikut petikan wawancara wartawan Jawa Pos Radar Bali, MAULANA SANDIJAYA dengan I Putu Agus Swastika, M. Kom, Praktisi IT yang juga anggota Dewan Smart City Denpasar:

Selaku pengamat dan praktisi IT, menurut Anda apa sesungguhnya motivasi orang menebar hoax?

Ada beberapa motivasi orang menebar hoax tergantung target dari hoax tersebut. Jika hoax yang ditebar menyangkut pribadi seseorang biasanya

untuk menjatuhkan nama baik atau kalau dalam kancah pemilu tentu agar berdampak turunnya elektabilitas.

Ada juga motivasi untuk menebarkan keresahan dan ketakutan pada masyarakat dan ada motivasi persaingan bisnis, dengan menebar hoax diharapkan dapat menjatuhkan

saingan dan yang terakhir ada yang sengaja membuat hoax di website untuk keuntungan ekonomi, makin banyak yang klik berita hoaksnya, makin banyak dapat dolar dari google adsense.

Jika untuk kepentingan politik, secara UU ITE apakah itu boleh? Bagaimana mengantisipasinya?

Untuk kepentingan apapun, politik, ekonomi maupun kepuasan pribadi tetap saja tidak diperbolehkan secara hukum, seperti yang sudah tercantum di UU ITE maupun UU Nomor 1/1946 tentang hukum pidana.

Agar kita tidak tersangkut sebagai penebar hoaks, yang pertama tentu tidak memproduksi dan yang kedua tidak ikut menyebarkan.

Jika kita senang berbagi, harus dipastikan sumber berita tersebut kredibel. Jika bersumber dari media online, apakah media tersebut tersertifikasi dewan pers atau tidak.

Bagaimana mendidik masyarakat agar waspada hoax politik?

Sebaiknya masyarakat yang ingin berpolitik praktis, misalnya dukung mendukung capres maupun caleg fokus pada kelebihan dan prestasi yang didukung sehingga konten yang diproduksi akan berbasis fakta.

Masyarakat mudah sekali percaya hoaks dalam bentuk visualisasi video. Bagaimana mengantisipasinya?

Banyak cara untuk memastikan kebenarannya, misanya googling dengan keyword sesuai konten yang ada di video, jika itu fakta, biasanya akan terlihat dari informasi yang kita dapatkan di google.

Bagaimana ciri berita hoax?

Yang pertama terlihat adalah dari sumber berita hoax tersebut, jika dari sebuah blog atau website yang tidak jelas kredibelitasnya patut diragukan.

Berikutnya dari kontennya yang biasanya provokatif, tidak berimbang dan menyudutkan pihak tertentu.

Dan terakhir, biasanya berita hoax sulit dikonfirmasi kebenarannya karena tidak mencantumkan sumber yang valid.

 

Apa saran Anda bagi para timses dan politisi untuk ikut antihoaks agar menghasilkan pemilu yang berkualitas?

Untuk ikut gerakan anti hoax, pertama tentu saja kita tidak ikut menyebarkan hoax, kemudian ikut meluruskan jika mendapati berita hoax

dan jika itu membahayakan stabilitas bisa segera melaporkan ke Polri, jika terkait hoax pemilu, menyangkut peserta pemilu bisa melaporkan ke Bawaslu.

Di Indonesia juga sudah ada website turnbackhoax.id yang menampung aduan hoax dari netizen yang bisa kita pakai sebagai referensi berita hoax. (*)

(rb/san/rid/mus/JPR)

 TOP