Kamis, 19 Sep 2019
radarbali
icon featured
Ekonomi

Tender Pasar Darurat Banyuasri Berulangkali Gagal, Ini Penyebabnya...

19 Maret 2019, 00: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

tender pasar, pasar banyuasri, disperindag buleleng

Suasana jual beli di Pasar Banyuasri, Singaraja, beberapa waktu lalu (Eka Prasetya/Radar Bali)

Share this      

SINGARAJA – Proses tender pengadaan pasar darurat bagi para pedagang di Pasar Banyuasri, tak kunjung terlaksana.

Konon dokumen tender sudah diajukan pada akhir Februari lalu. Namun hingga kini pengumuman pengadaan belum muncul dalam situs Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) milik Pemkab Buleleng.

Tadinya proses pembangunan pasar darurat diharapkan bisa tuntas pada bulan April nanti. Namun dengan belum munculnya penguman tender, kemungkinan pasar darurat baru bisa tuntas pada bulan Juni-Juli mendatang.

Kabag Layanan Pengadaan Setda Buleleng I Putu Adiptha Ekaputra, tak menampik bahwa hingga kini pengumuman tender pasar darurat belum dilakukan.

“Kami sudah bahas. Kami masih kaji ulang dan cek kembali kesiapan dokumen itu. Kami undang dinas dan tim terkait. Minggu depan, sudah pengumuman untuk pasar darurat,” kata Adiptha saat ditemui di Gedung Kesenian Gde Manik.

Sementara untuk pengadaan fisik revitalisasi Pasar Banyuasri, Adiptha menyatakan pihaknya masih melakukan pencermatan terhadap dokumen.

Sebab pembangunan akan dilakukan dalam tahun jamak, yakni dua tahun anggaran. Sehingga diperlukkan persiapan khusus.

Diperkirakan proses kontrak revitalisasi Pasar Banyuasri sudah dilakukan pada bulan Juli mendatang.

“Proses pekerjaan nanti kurang lebih selama 16 bulan. Lelangnya nanti akan dilakukan sekali. Proses pembayarannya nanti ya sesuai dengan progress pekerjaan. Anggarannya kan sudah ada kesepakatan dengan DPRD,” imbuhnya.

Sekadar diketahui, pemerintah kini berambisi melakukan revitalisasi terhadap Pasar Banyuasri. Pasar tradisional itu akan disulap menjadi pasar semi modern, dan dibangun tiga lantai.

Pemerintah harus menyiapkan anggaran hingga Rp 188 miliar untuk konstruksi fisik. Pada tahun ini, anggaran yang tersedia baru Rp 94 miliar. Sementara Rp 94 miliar sisanya baru akan dianggarkan pada tahun 2020.

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP