Jumat, 19 Apr 2019
radarbali
icon featured
Features
Melihat Garapan Baru Wayang Dug-Byor

Kumpulkan Data Sejak 2018, Ungkap Cerita Leak dan Legenda Legu Gondong

19 Maret 2019, 09: 25: 06 WIB | editor : ali mustofa

wayang dug byor, cerita leak, legenda legu gondong

Dalang Dug-Byor, Putu Gede Sartika memainkan wayan Dug dan Byor dengan latar pantai (Istimewa)

Dalang Wayan Dug-Byor, Putu Gde Sartika, kini kembali menampilkan cerita baru. Setelah mengumpulkan data sejak 2018 lalu, dalang asal Banjar Biya, Desa Keramas,

Kecamatan Blahbatuh itu kini membuat garapan baru yang sudah dituangkan dalam DVD. Garapannya menceritakan leak dan legenda Legu Gondong Sanur. Seperti apa?

IB INDRA PRASETIA, Gianyar

SEMPAT tampil memesona pada gelaran Bali Mandara Mahalango di Art Center pada 2017, kini dalang Putu Gde Sartika atau dalang Dug-Byor kembali berkreasi.

Dalang Sartika yang konsen pada pengeleakan kini kembali membawakan tema mistis di garapan terbarunya.

Kali ini, dalang Dug-Byor mengungkap kisah Legu Gondong yang melegenda di daerah Intaran Sanur.

Garapan yang telah direkam dalam keping DVD ini, lengkap dengan sejarah dan nilai mistis tentang ilmu pengeleakan zaman silam yang tercatat dalam sejarah Bali.

Ditemui di sekretariat Yayasan Seni Siwa Latri yang juga rumahnya, beberapa hari lalu, dalang Dug-Byor mengangkat legenda Legu Gondong.

“Ini didasarkan atas keinginan untuk melestarikan cerita-cerita masyarakat Bali yang dapat menjadikan inspirasi masa kini,” ujarnya.

Cerita Legu Gondong ini, selain sangat menarik dan inspiratif, juga mengungkap sejarah dari naskah kuno tentang Pura Dalem Blanjong, Desa Sanur, Kecamatan Denpasar Timur.

Tidak main-main, untuk memperoleh cerita aslinya, dalang Dug-Byor pun melakukan penggalian cerita dari nara sumber-sumber terpercaya.

“Narasumber kami antara lain, Bapak I Wayan Turun dan Bapak Made Kara. Dua nara sumber kami ini, mengungkapkan cerita legenda Legu Gondong berdasarkan naskah kuno yang otentik,” terangnya.

Naskah kuno tersebut juga dipadukan dengan cerita-cerita yang berkembang di masyarakat Intaran Sanur.

“Maka saya memberanikan diri untuk mengangkat cerita ini menjadi garapan seni pewayangan Calonarang lewat pewayangan,” paparnya.

Dalang yang juga lihai menari bondres dengan nama beken Sangar itu menambahkan, cerita Legu Gondong pada intinya adalah

upaya pengujian srada bhakti dari Ida Bhatara Dalem Blanjong atau Ida Bhatara Budha Siwa Sidhanta terhadap masyarakat Intaran Sanur.

Saat itu, diceritakan pada masa Kerajaan Kesiman yang dipimpin seorang raja bernama I Gusti Ngurah Kusiman.

Pengujian ini, untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk meningkatkan srada bhakti kepada Prahyangan dan Ida Bhatara yang berstana di Pura Dalem Blanjong.

Hal itu karena saat itu, masyarakat mulai meninggalkan srada bhaktinya sebagai umat. Cerita dimulai dengan ujian yang cukup berat yang diberikan kepada pasangan Ida Brahmana Lanang dan Istri di Desa Intaran Sanur.

Saat ini, akan melakukan upacara Pediksaan untuk menjadi Sulinggih. Saat upacara Seda Raga, Ida Brahmana Lanang tidak hidup kembali, dan akhirnya meninggal dunia.

Namun, bukan rasa duka cita dan belasungkawa yang muncul dari masyarakat. Ida Brahmana Istri justru dituduh menyebabkan kematian sang Brahmana Lanang dengan menggunakan ilmu hitam alias pengeleakan.

Ida Brahmana Istri yang terus dipojokkan oleh masyarakat lantas mengadu kepada Ida Bhatara Dalem Blanjong. Berdoa dan menceritakan sakit hati dan keinginannya untuk membalas perlakukan masyarakat tersebut.

“Pergulatan cerita dimulai. Ketika ujian ini telah menjadi nyata, Ida Bhatara Dalem Blanjong turun menemui Brahmana Istri dan

menganugerahkan kesaktian ilmu pengeleakan untuk membalaskan sakit hatinya,” jelasnya. Hal yang tak pernah dia lakukan sebelumnya.

“Karena fitnah itu, dia (Brahmana Istri, red) akhirnya menjadi memiliki ilmu pengeliakan tertinggi dan diberi gelar Rangdaning Jro Agung,” terangnya.

Tak hanya kesaktian, Ida Bhatara Dalem Blanjong juga mengutus Ida Ratu Niang Lingsir Legu Gondong untuk memberikan wabah penyakit kepada masyarakat Intaran Sanur.

Hanya dengan sekali gigit, manusia langsung terkapar dan meninggal.  Saat itu, diceritakan warga Intaran Sanur meninggal silih berganti.

Sehingga Bendesa Adat Intaran yang panik akhirnya menghadap Raja Kesiman, I Gusti Ngurah Kusiman. Sang raja lantas memerintahkan Sikep-Sikep Kusiman

untuk meredam keadaan dibawah pimpinan Ki Poleng Kusiman (I Gusti Gede Lod) yang langsung menantang Rangdaning Jro Agung guna melangsungkan perang tanding.

Pertempuran dengan kesaktian masing-masing terjadi. Ki Poleng pertama berubah menjadi Barong Puuh (buntut-red), hanya sekali kibas oleh Rangdaning Jro Agung, kalah.

Tak mau menyerah, Ki Poleng berubah menjadi Barong Bauk (Babi/Bangkal-red), juga tidak mampu menandingi Rangdaning Jro Agung yang saktinya luar biasa.

Sikep-Sikep dan Ki Poleng kemudian mundur dan melapor ke I Gusti Ngurah Kusiman karena ketidakmampuannnya mengalahkan Rangdaning Jro Agung. Dengan kekalahan para prajuritnya yang pilih tanding itu, I Gusti Ngurah Kusiman turun tangan.

“Raja Kesiman ini, mengeluarkan ajian yang sangat tanpa tanding yakni Bima Rampak. Dengan merubah diri menjadi Banaspati Raja (Barong Ket, red), I Gusti Ngurah Kusiman akhirnya berhasil mengalahkan Rangdaning Jro Agung,” jelasnya.

Kata dalang, disitulah letak kesadaran dan sejarah. Ketika Rangdaning Jro Agung menyatakan kekalahannya, dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

I Gusti Ngurah Kusiman pun menyadari dan memahami keadaan tersebut. “Kesadaran inilah sebagai titik kupas sejarah, dimana kearifan Raja Kesiman

mampu menyadarkan Randaning Jro Agung dan menyadarkan masyarakatnya untuk tetap eling dan bhakti kepada Ida Bhatara ring Pura Blanjong Sanur,” ujarnya.

Penggarapan wayang yang dimulai dari pertengahan tahun 2018 lalu ini, dikolaburasikan dengan berbagai teknik-teknik dengan menampilkan teknologi multimedia dan seni tabuh yang inovatif.

Tak ketinggalan, lakon Dug dan Byor juga diselipkan. Walau dipoles moderen, namun tidak meninggalkan ciri khas wayang calonarang dengan ngatag atau mengundang praktisi leak untuk berperang melawan dalang.

“Saya tetap mempertahankan pakem ini. Jangan menilai ngatag leak ini hal negatif. Malah leak sering dikambinghitamkan dan dijadikan tudingan permusuhan di dalam masyarakat. Jika Dalangnya masih hidup dalam waktu tiga hari,” jelasnya.

Menurutnya, apabila dalang melakukan pagelaran, berarti tidak ada orang bisa ngeleak di tempat itu. “Jadi aman. Untuk itu, berpikir postiflah,” tukasnya. (*)

(rb/dra/mus/JPR)

 TOP