Jumat, 24 May 2019
radarbali
icon featured
Dwipa

Apes, Didata Sejak 2015, Proyek Bedah Rumah Tak Kunjung Datang

21 Maret 2019, 21: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

bedah rumah, warga miskin, lingkungan samplangan, pemkab gianyar

Dewa Gede Arisudewa hanya menunggu bedah rumah yang dijanjikan sejak 2015 lalu (Indra Prasetia/Radar Bali)

GIANYAR – Rumah berukuran 4x6 meter yang dihuni 7 anggota keluarga di Lingkungan/Kelurahan Samplangan Kecamatan Gianyar kondisinya memprihatinkan.

Rumah sederhana tersebut sudah tiga kali didata sejak 2015 lalu. Namun hingga 2019 ini belum memperoleh bantuan bedah rumah.

Pemilik rumah, Dewa Gede Arisudewa, 29, mengakui ada petugas yang sudah tiga kali bolak-balik mendata rumahnya untuk rencana bedah rumah.

“Sejak tahun 2015 lalu, petugas dari desa, dari Pemkab sudah tiga kali mengambil foto kesini, katanya mau dibedah rumah, tapi belum ada,” ujar Arisudewa kemarin.

Arisudewa yang merupakan putra dari pemangku Pura Kawitan Penataran Agung Samplangan Dewa Made Kertha, itu tergolong keluarga kurang mampu.

“Kalau di areal pekarangan ini total ada empat kepala keluarga. Khusus bale daja ini keluarga saya ada ayah, ibu, istri dan anak saya, ditambah tiga adik saya,” jelasnya.

Rumahnya tersebut hanya terdiri atas tiga kamar, bahkan ada satu kamar yang gabung jadi satu dengan dapur.

Ada juga atap rumah yang  berbahan bambu dan kayu sudah pada rusak. Jika hujan, Arisudewa mengaku terjadi kebocoran di beberapa titik.

Mengenai rencana bedah rumah yang dijanjikan sampai tiga kali itu pun mendapat janji yang berbeda-beda dari setiap petugas.

“Waktu datang petugas yang pertama bilang dapat bantuan bedah rumah secara total. Lalu datang kedua dijanjikan hanya mengganti atap rumah saja,” jelasnya.

Kemudian petugas terakhir datang menjanjikan merenovasi bagian yang rusak saja. “Saya tidak tahu sekarang mengadu ke siapa. Saya juga tidak enak kalau menuntut harus dapat bantuan bedah rumah,” terangnya.

Arisudewa yang lulusan SMK itu mengaku pernah bekerja di salah satu perusahaan percetakan di Denpasar.

Sayang, pada 2014 matanya mulai rabun, hingga akhirnya mata sebelah kanannya tidak bisa melihat. Sedangkan yang sebelah kiri penglihatannya sangat rabun.

“Waktu itu dokter bilang saya kena penyakit parasite darah yang tumbuh pada pembuluh darah dan kena retina mata.

Katanya juga riwayat lama, diduga waktu kecil sempat memegang kotoran kucing lupa cuci tangan langsung makan sesuatu. Sehingga virusnya itu berkembang dan baru 2014 menunjukkan gejalanya,” tuturnya.

Sampai saat ini di keluarganya tersebut yang bekerja hanyalah adik nomor duanya yang bekerja di salah satu koperasi di desa setempat.

Selain berharap mendapatkan bantuan bedah rumah, ia juga sangat berharap ada bantuan yang bisa mengobati penyakit yang diderita pada matanya tersebut.

Kepala Lingkungan Samplangan, I Nyoman Winada, menyatakan rumah Dewa Made Kertha memang belum mendapatkan bantuan bedah rumah.

Namun yang ia ketahui hanyalah baru menerima bantuan jamban yang dibangun di selatan rumahnya.

“Kalau bedah rumah sepengetahuan saya selama jadi Kaling dua tahun ini belum ada. Pengajuannya juga sepengetahuan saya langsung dari kelurahan,” tukasnya. 

(rb/dra/mus/JPR)

 TOP