Jumat, 19 Apr 2019
radarbali
icon featured
Metro Denpasar
Kisah 2.000 Penari Pendet

Rias Wajah Pukul 09.00, Rela Tak Makan Sejak Pagi Demi Sambut Jokowi

23 Maret 2019, 00: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

penari pendet, presiden jokowi, rela tak makan, rias wajah

Penari pendet harus menunggu Presiden Jokowi berjam-jam dan rela tidak makan, Jumat sore (Wayan Widyantara/Radar Bali)

DENPASAR – Momen yang ditunggu-tunggu masyarakat Bali itu akhirnya tiba. Jumat (22/3) petang, Presiden Jokowi didampingi Ibu Negara Iriana Jokowi datang ke Bali untuk meresmikan Pasar Badung.

Yang menjadi perhatian, kehadiran Presiden Jokowi tersebut disambut 2.000 penari pendet dari sejumlah sekolah SMA/SMK se-Kota Denpasar.

Sekadar diketahui, Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura, tempat ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia.

Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Namun oleh seniman Bali, kini dapat dijadikan tarian penyambutan.

Salah seorang penari tarian tersebut mengaku sudah berhias sejak pukul 09.00 pagi untuk acara penyambutan Jokowi yang direncanakan tiba pada pukul 17.00.

“Ada juga yang sudah berhias dari pukul delapan pagi,” ujarnya. Kehadiran Jokowi memang molor dari waktu yang ditentukan.

“Kami sudah berbaris dari jam tiga. Ini jam enam ya? Lumayan lama,” ujar salah seorang penari. Sudah makan?

“Belum. Dari pagi belum makam. Paling cuma minum air saja,” akunya dan kemudian diiyakan oleh penari lainnya.
Sekitar pukul 18.15, Presiden yang ditunggu-tunggu pun hadir. Itu terdengar dari kerasnya suara serine pengawalan hingga terdengar sampai barisan belakang.

Tarian pun dimulai, namun lagi-lagi tidak sesuai dengan harapan. Suara gamelan tidak terdengar dibaris paling belakang. Alhasil, penari pun tidak kompak.

Bahkan, ada yang menari dengan meraba-raba suara gamelan. Sejumlah penonton pun banyak berceletuk. “Kasihan ya penarinya,” ungkap warga.

Selain tak kompak, para penari di bagian belakang pun harus berdempetan dengan mobil karena saking panjangnya barisan.

“Kok nggak seperti gladi kemarin ya,” ungkap seorang penari yang bingung saat menari. 

(rb/ara/mus/JPR)

 TOP