Jumat, 19 Apr 2019
radarbali
icon featured
Politika

Diisukan Hapus Pelajaran Agama, Jokowi: Kabar Bohong Harus Dilawan!

23 Maret 2019, 10: 28: 16 WIB | editor : ali mustofa

pemilu 2019, presiden jokowi, sapa pedagang, lawan berita hoaks

Presiden Jokowi menyapa para pedagang di Pasar Badung kemarin (Adrian Suwanto/Radar Bali)

DENPASAR – Kehadiran Presiden Jokowi saat grand opening Pasar Badung, Jumat malam menyita perhatian publik Bali.

Mereka menyemut memadati jalan protokoler untuk melihat dari dekat sang presiden. Presiden Jokowi sendiri telat datang ke Bali.

Sesuai rencana, acara grand opening dimulai pukul 17.00, namun molor hingga pukul 19.00. Meski begitu, kedatangan Jokowi menjadi magnet tersendiri di tengah masyarakat.

Kepada masyarakat yang menyambutnya di Pasar Badung, Presiden Jokowi menyinggung 25 hari lagi  Indonesia akan menyelenggarakan pesta demokrasi.

Sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, dia menitip kepada masyarakat supaya jangan sampai golput alias tidak menggunakan hak pilih.

“ Saya titip 26 hari lagi ada Pilpres dan Pileg. Saya ingin bapak dan ibu sekalian mengajak tetangga handai taulan untuk datang ke TPS (tempat pemungutan suara)  

menggunakan hak pilih. Jangan biarkan satu orang di Bali ada yang golput. Ini menentukan arah ke depan,” pintanya

Selanjutnya, Pria asal Solo, Jawa Tengah ini meminta supaya masyarakat tidak cepat termakan berita hoaks dan fitnah. Terutama yang banyak tersebar di media sosial.

”Saya titip, hindari media sosial yang menebar kabar fitnah bohong. Saat ini mulai bertebaran isu-isu  yang bisa memecah kita. Jangan takut. Harus diluruskan. Harus dilawan,” ucap alumnus Fakultas Kehutanan UGM, Jogjakarta, ini.

Ia meminta masyarakat berani mengatakan yang mana benar dan mana yang salah.  Jokowi pun menyinggung isu yang tengah viral menimpa dirinya.

Seperti pemerintah yang baru akan menghapus pendidikan agama di sekolah. Selain itu, ada isu melegalkan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender).

“Ada  isu pasangan sejenis yang akan dilegalkan.  Ini untuk mendiskreditkan pasangan capres dan cawapres yang ada.

Hal seperti ini harus dihentikan. Terus ada isu kriminalisasi ulama . Bangsa ini punya sopan santun, budi pekerti yang baik.

Kita sangat rugi besar kalau itu terjadi. Jangan sampai karena pilihan bupati, kita tidak saling sapa antar tetangga . Kita lupa kita bangsa besar. Saya titip. Itu saja,” pungkasnya

(rb/feb/mus/JPR)

 TOP