Selasa, 17 Sep 2019
radarbali
icon featured
Radar Buleleng

Digerus Banjir, Belasan Hektare Sawah di Buleleng Berubah Jadi Sungai

26 Maret 2019, 07: 26: 48 WIB | editor : ali mustofa

digerus banjir, belasan hektare sawah, berubah jadi sungai, desa banjarasem

Sawah warga Desa Banjarasem tergerus banjir di Tukad Banyuaras (Eka Prasetya/Radar Bali)

Share this      

BANJARASEM – Sedikitnya 12 hektare sawah di wilayah Desa Banjarasem tergerus banjir. Belasan hektare sawah itu kini telah lenyap dan telah berubah menjadi sungai.

Petani pun hanya bisa gigit jari sebab lahan hak miliknya sudah hilang dibawa hanyut aliran air di Tukad Banyuraras.

Sawah-sawah petani sebenarnya sudah tergerus sejak tahun lalu. Dam penahan air di Tukad Banyuraras jebol dan tak kunjung diperbaiki.

Seiring berjalannya waktu, debit air yang cukup tinggi terus mengalir di Tukad Banyuraras. Air yang mengalir secara perlahan menggerus lahan pertanian warga.

Saat banjir terjadi pada Sabtu (23/2) lalu, hektaran lahan pertanian warga hanyut terbawa air bah. Mirisnya, sawah yang tergerus air itu termasuk lahan produktif.

Padi yang ditanami petani rata-rata telah berusia antara 30-42 hari. Kelian Subak Pangkung Kunyit Made Darmawan mengatakan, kondisi banjir kemarin merupakan yang terparah.

Akibatnya banyak sawah petani yang tergerus air. Terutama yang berada di sekitar Jembatan Banjarasem.

“Kalau sawah yang terendam banjir saja itu sekitar 7-8 hektare. Tapi kalau yang tergerus itu sekitar 10-15 hektare.

Yang tergerus itu sudah habis. Tanahnya sudah hilang, jadi sungai semua. Kondisinya parah sekali,” kata Darmawan.

Darmawan menduga tergerusnya lahan milik petani dipicu jebolnya dam di Subak Kalisada. Dam itu diperkirakan sudah jebol sejak tiga tahun lalu. Namun hingga kini tak kunjung diperbaiki.

“Kami sudah laporkan berkali-kali, tapi belum ada penanganan dari pemerintah. ini yang menyebabkan sawah di sisi kanan-kiri jembatan itu tergerus,” imbuh Darmawan.

Ia mengaku sudah berkali-kali mengajukan usulan. Bahkan sudah beberapa kali bertemu dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida. Apabila terus dibiarkan, petani khawatir hal itu akan berdampak pada jembatan. 

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP