Jumat, 19 Apr 2019
radarbali
icon featured
Hukum & Kriminal
Pembunuhan Sadis Mahasiswi Undiksha

Ibu Serli Ungkap Sosok Kodok, Bak Preman, Pernah Ancam Bunuh Korban

13 April 2019, 08: 36: 51 WIB | editor : ali mustofa

pembunuhan mahasiswi, mahasiswi cantik, sosok kodok, bak preman, ancam bunuh korban, rsup sanglah, polres buleleng

Tersangka pembunuhan I Made Indara Jaya alias Kodok (dok.radarbali)

DENPASAR – Ibu mahasiswi cantik Undiksha yang menjadi korban pembunuhan Ni Made Serli Mahardia, Ni Nyoman Sarini, 49, mengungkap fakta lain di balik kematian putrinya.

Menurutnya, sang pacar I Made Indara Jaya alias Kodok merupakan lelaki tak bertanggung jawab dan temperamental. Bahkan beberapa waktu lalu Ayu sempat diancam akan dibunuh bersama orang tua dan keluarga.

Kepada Jawa Pos Radar Bali, Sarini mengatakan, kematian anaknya menyisakan duka mendalam. Sebab gadis cantik anak kedua dari dua bersaudara itu merupakan anak kesayangan.

Selain penurut dan sopan, almarhumah rajin sembahyang. Selalu terlibat dalam urusan keluarga juga komunitas di kampusnya.

Menurut Sarini, sebelum meninggal di kamar kosnya di Jalan Wijaya Kusuma, Buleleng, Kamis (11/4) lalu, sekeluarga sempat berkumpul di Dalung, Kuta Utara, Selasa (2/4) lalu.

Rumah sederhana di Dalung itu ditempati oleh kakak laki-laki Serli bersama sang istri yang tengah hamil muda.

Setelah itu, Serli balik ke Singaraja, Kamis (4/4) sore. Sementara, ibu dan ayahnya balik ke Negara, Jembrana.

Saat itu, Serli terus kirim kabar, baik telepon maupun via pesan WA. Bahkan Sabtu (6/4), sang bunda sempat menghubungi dan diingatkan

agar jika hari Senin nanti (8/4) atau kapanpun ketika balik ke Tabanan, jangan lupa membawa pakaian adat untuk sembahyang.

“Ya, Ayu (sapaan akrab Serli) rajin sembahyang. Dan Minggu (7/4), kita berdua sempat berkomunikasi. Nah, sejak Senin (8/4), Ayu sudah tak ada kabar lagi sampai sekarang,” tuturnya.

Empat hari sebelum ditemukan tewas di kos, sang ibu hanya bisa menghubungi sejumlah teman-teman Serli, rata-rata teman kuliahnya.

Senin malam (8/4) sang ibu menelepon beberapa teman, agar mengecek Ayu di kosannya. Selasa siang (9/4) teman-teman kembali

menghubungi ibu bahwa kosannya terkunci, tapi motornya ada di parkiran kos yang tak lain dan tak bukan milik paman korban.

Ni Nyoman Sarini bersama suami tidak berpikir buruk tentang keadaan anaknya. Sebab kosan itu milik saudara dan anaknya selalu terbuka atau jujur.

Yang ada di benak orang tua mahasiswi cantik ini, sang anak kemungkinan sibuk sehingga belum memberikan kabar.

Baru, pada hari Selasa (10/4) lalu, timbul kecemasan pada benak keluarga. Sebab, sejak Senin itu, anaknya tidak ke kampus, dan tak kirim kabar.

Akhirnya Ni Nyoman Sarini menghubungi pemilik kos dan didapatkan kabar bahwa sang pacar bernama Kodok itu sempat terlihat di kosan anaknya, Sabtu (6/4).

Terpaksa Ni Nyoman Sarini menghubungi Kodok via telepon, Selasa malam itu (10/4). Kodok merespons ibunda dan mengatakan bahwa ia sudah beberapa hari terakhir bersama dengan Serli.

Saat Ni Nyoman Sarini minta untuk bicara dengan Serli lantaran HPnya sudah 4 hari tidak aktif, Kodok menyatakan bahwa Serli barusan pulang ke Singaraja.

Malam itu juga, Ni Nyoman Sarini kembali menelepon teman-teman anaknya untuk mengecek lagi si Serli di kosan Kamis besoknya.

Beberapa teman kemudian kembali mengecek Serli di kosan. Di sana, motornya masih tetap pada posisi semula.

Pintu terkunci. Yang beda, kunci kamar kosan terlihat dicelah tengah-tengah antara bingkai jendela kamar dan kosen.

Ni Nyoman Sarini yang masih terlibat telepon dengan salah satu dari sekian teman Serli, mengarahkan mereka untuk mengambil kunci tersebut dan segera membuka pintu.

Betapa sedihnya ketika pintu dibuka, masih melalui sambungan telepon, Ni Nyoman Sarini dikabarkan bahwa Serli ternyata sudah tewas membusuk di kamar.

Sekitar pukul 10.00, dia dan keluarga bergegas ke Singaraja. “Orang tua mana yang tidak sedih ketika mengetahui anaknya dibunuh.

Apalagi yang membunuh adalah pacarnya yang temperamental seperti itu. Kayak preman dan anak saya selama 1 tahun pacaran terus diancam. Beberapa kali diputusin, tapi anak saya diancam akan dibunuh bersama keluarganya,” paparnya.

(rb/dre/mus/JPR)

 TOP