Kamis, 20 Jun 2019
radarbali
icon featured
Features
Ketika Kaum Tuna Netra Antusias Sambut Pemilu

Nilai Capres Dari Suara Debat di Televisi, Soal Pilihan Tetap Rahasia

16 April 2019, 10: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

pemilu 2019, penyandang cacat, tuna netra, pemilu serentak 2019, Pilpres 2019, Pileg 2019,

ANTUSIAS : Taufikurrahman dan I Komang Sukrawan (kiri baju putih), penyandang tuna netra saat ditemui di Panti Pijat di kawasan Tabanan, Senin (15/4) (Maulana Sandijaya)

Share this      

Tak hanya masyarakat umum yang menyambut Pemilihan umum (pemilu) serentak 2017 dengan antusias.

Namun sejumlah penyandang cacat khususnya tuna netra pun juga tak kalah menyambut hajatan lima tahunan ini.

 

MAULANA SANDIJAYA, Tabanan

Cuaca berawan menyelimuti wilayah Tabanan, Senin (15/4) siang kemarin.

Tepat di lantai II sebuah panti pijat tunanetra di Jalan Tendean, Kediri, Tabanan, Taufikurrahman tampak serius memegang handphone merek Samsung warna putih.

Ia tampak serius mendengarkan suara siaran langsung Radio Republik Indonesia (RRI).

“Saudara pendengar, surat suara warna abu-abu untuk memilih presiden dan wakil presiden, warna merah untuk DPD RI, warna kuning untuk DPR RI, warna biru untuk DPRD provinsi, dan warna hijau untuk DPRD kabupaten/kota,” ujar penyiar radio dengan suara mantap itu.

Taufik lantas manggut-manggut mendengarkan suara penyiar yang tak dikenalnya itu. Radio yang didengarkan Taufik adalah RRI Bima, NTB.

Melalui aplikasi RRI play versi 2, tanpa antena Taufik bisa mendengarkan kabar dari kampung halamannya di Bima.

Kemajuan tekhnologi membuat hampir semua ponsel android dilengkapi fitur khusus untuk kalangan difabel. Mereka juga bisa mengunduh aplikasi lain melalui play store.

Taufik yang kesehariannya bekerja di toko oleh-oleh di Kuta, itu sengaja datang ke Tabanan sebelum hari pencoblosan. Seperti pemilu sebelumnya, Taufik dkk menyalurkan suaranya di TPS yang ada di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Mahatmiya, Kediri, Tabanan. Di PSBN Mahatmiya pula Taufik menimba ilmu sebagai penyandang disabilitas.

“Sebelumnya saya sengaja tidak ambil libur biar sekarang bisa tenang untuk mengikuti pemilu. Biar pas coblosan saya bisa bareng-bareng sama teman (tunanetra) lainnya,” ujar Taufik.

Pria kelahiran Bima, NTB, 10 Maret 1983, itu menyatakan sudah memantapkan pilihannya untuk mencoblos pasangan capres – cawapres pada 17 April besok.

Siapa yang akan dipilih? “Sudah ada, tapi rahasia,” jawab sulung dari tiga saudara itu. Ia lantas kembali mendengarkan siaran RRI Bima.

Sementara itu, I Komang Sukrawan rekan seperjuangan Taufik juga tak kalah antusias menyambut pemilu. Saking antusiasnya, Sukrawan merencanakan Selasa sore atau sehari sebelum coblosan akan pulang kampung ke Jembrana mengambil formulir C-6 atau surat panggilan ke TPS.

“Saya sudah tanya-tanya, boleh mencoblos di lain tempat asal ada C-6. Besok sore (hari ini) saya naik bus ke Jembrana biar hari Rabu bisa ikut mencoblos di Mahatmiya,” kata pria kelahiran 6 April 1988, itu.

Sama dengan Taufik, Sukrawan juga sudah yakin dengan pilihannya. Sukrawan juga enggan membuka siapa capres – cawapres yang akan dipilih. Namun, bukan berarti Sukrawan asal pilih. Untuk meyakinkan hatinya, Sukrawan mengikuti debat capres – cawapres yang disiarkan langsung di televisi. Jika ketinggalan debat atau tidak sempat nonton, Sukrawan membuka kanal Youtube. Hal yang sama juga dilakukan kawannya sesama tunanetra seluruh Indonesia.

Sukrawan lantas menunjukkan kepada koran ini group yang disebut Rumah Tuna Netra Indonesia (RTNI). Dengan menggunakan aplikasi Zello, group RTNI diikuti ribuan penyandang tuna netra se-Indonesia. Selain RTNI, Sukrawan juga ikut group Tunanetra Bali on Zello atau biasa disingkat TBOZ.

Nah, dalam group itulah rutin dilakukan diskusi setiap usai debat capres – cawapres. “Kami menilai karakter sesorang dari suaranya. Mata kami memang tidak melihat, tapi telinga kami sangat peka,” tegas Sukrawan.

Melalui suara karakter seseorang bisa dinilai. Apakah orang itu sifatnya keras, egois, pemarah, atau penyabar. Penilaian karakter itu bisa ketahuan lewat intonasi saat bicara. “Misalnya, kalau orang ngomongnya terus menggebu-gebu, nadanya tinggi terus, maka dia biasanya pemarah atau egois,” tutur bapak satu anak itu.

Melalui debat itu pula Sukrawan dan koleganya bisa menilai capres – cawapres mana yang serius dan doyang mengumbar janji. Hal itu bisa diketahui dari saat capres – cawapres menjawab tentang pertanyaan ekonomi. “Kalau ada capres – cawapres yang bicaranya saya akan, saya ingin ini dan itu, berarti sudah tidak pas,” tuturnya dengan logat Bali kental.

Berbeda dengan capres – cawapres yang sungguh-sungguh. Setiap menjawab persoalan maka akan memberikan solusi. Sukrawan mencontohkan tentang tema kesejehateraan sosial, salah satu capres menyatakan bakal membenahi kekurangan yang ada dengan cara membuat program yang bisa diterima logika. Programnya tidak muluk-muluk.

“Kalau sekadar saya ingin atau saya akan, semua orang juga bisa. Saya juga bisa jadi capres. Tapi, yang penting itu kan solusinya. Kenapa saya tidak jadi capres? Karena saya bisanya hanya akan dan mau, tapi tidak bisa kasih solusi,” selorohnya.

Berkat pendengaran yang peka itu, akhirnya Sukrawan dan kawan-kawannya sesama tunanetra mengetahui karakter masing-masing capres – cawapres.  Mereka pun siap menyalurkan hak suaranya. “Kami yang difabel saja berjuang agar bisa ke TPS, masak yang normal golput. Ini (pemilu) momen langka, lho. Ini akan memengaruhi masa depan kita,” tukasnya.

Untuk langkah pencoblosan tidak ada masalah. Sebab, KPU sudah mendesain surat suara khusus difabel. Kalangan tunanetra surat suaranya dilengkapi huruf brail. Ditanya bagaiamana pilihan untuk calon DPD, DPR RI, provinsi, dan kabupaten/kota, Sukrawan menjawabnya dengan diplomatis. “Saya tidak bisa menilai mereka karena mereka tidak pernah bicara dengan saya. Saya juga tidak bisa melihat balihonya mereka,” pungkasnya.

(rb/pra/san/mus/JPR)

 TOP