Kamis, 20 Jun 2019
radarbali
icon featured
Radar Jembrana

Nasib Anjungan Cerdas Konservasi di Jalur Tengkorak Jembrana Tak Jelas

19 April 2019, 03: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

anjungan cerdas konservasi, jalur tengkorak, proyek pariwisata

Anjungan cerdas konservasi di jalur tengkorak Jembrana kondisinya kini mangkrak (Anom Suardana/Radar Bali)

Share this      

NEGARA – Pembangunan anjungan cerdas konservasi (ACK) di Jalur Denpasar Gilimanuk, hingga kini masih gabeng. 

ACK yang rencananya dibuat dilahan seluas 5 hektare yang berkonsep konservasi hingga kini masih belum jelas.

Tahun lalu lahan seluas 50 are yang berada di kawsan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) sudah mulai dibuka.

Pengerjaan proyek yang merupakan kerjasama dengan pihak TNBB ini sudah memasuki tahap kedua, yakni penataan halaman parkir dilanjutkan dengan  agregat dengan anggaran Rp.796 juta dari APBD.

Beberapa tanaman liar dan merambat dibersihkan menggunakan alat berat. Namun, pohon – pohon besar tetap disisakan sesuai kesepakatan dengan pihak TNBB.

ACK ini  konsepnya tidak hanya berfungsi sebagai rest area tempat persinggahan, namun juga ada fungsi edukasi.

Sesuai rencana di rest area tersebut  akan dibangun sarana publik di antaranya tempat parkir, tempat-tempat peristirahatan (Gazebo), WC umum, dan sarana pendukung lainnya.

Rest area itu juga diharapkan tempat ini akan menjadi pusat informasi pembangunan, pariwisata budaya dan religi, serta pembangunan konservasi kawasan pantai.

Selain itu juga diharapkan bisa memberdayakan masyarakat di wilayah Penginuman dan Gilimanuk, yang saat ini mempunyai mata pencaharian

sebagai pencari kayu bakar, sehingga nanti mereka bisa dilibatkan langsung agar ekonomi kerakyatan di sekitar bisa bergeliat.

Namun, hingga kini pembanbunan lanjutanya belum dilakukan dan lahan yang dipadatkan masih kosong.

“Pembangunan ACK di Penginuman itu pasti kita lanjutkan,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Perumahan Dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) I Wayan Darwin kemarin.

Menurut Darwin, design ACK itumemang sudah ada. Tetapi harus mendapat persetujuan dari pusat karena sarana yang dibangun seperti gazebo maupun pendukung lainya harus mengunakan bahan alami agar menyatu dengan alam.

“Kita lebih benyak mengunakan kayu yakni kayu ulin agar nyambung atau lebih menyatu dengan alam. Mungkin sbagian kecil mengunakan baja tetapi dibuat agar alami,” ungkapnya.

Lanjut Darwin, memang lahan yang distujui TNBB untuk ACK itu seluas 5 hektar. Namun yang boleh dibangun hanya 5 are.  

Lahan 5 are itu yang akan ditata tanpa melakukan pembabatan atau penebangan kayu-kayu di hutan tersebut.

“Saat ini kelanjutanya sudah memasuki tender dengan anggaran Rp5 miliar. Kita harapkan segera berlanjut dan tidak sampai gagal tender,” terangnya.

(rb/nom/mus/JPR)

 TOP