Senin, 09 Dec 2019
radarbali
icon featured
Features
Ketut Suardana, Ketua Asprov Bali

Raih Gelar Doktor ke 61 IHDN di Usia 61, Kaitkan Agama dan Sepakbola

19 April 2019, 10: 55: 26 WIB | editor : ali mustofa

asprov bali, ketut suardana, gelar doktor, ilmu agama, ihdn denpasar

Ketum Asprov PSSI Bali I Ketut Suardana (tengah) berpose dengan Ketum KONI Bali I Ketut Suwandi (dua dari kiri) dan jajaran pengurus Asprov PSSI Bali setelah mendapatkan gelar doktor ilmu agama di IHDN Denpasar, Selasa lalu (Alit Binawan/Radar Bali)

Share this      

Selasa (16/4) lalu adalah hari yang bersejarah bagi Ketum Asprov PSSI Bali I Ketut Suardana. Gelar Doktor Ilmu Agama berhasil disandang pria asal Ubud ini setelah

dia berhasil melewati ujian terbuka program Doktor di Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar dengan predikat sangat memuaskan. Seperti apa?

 

ALIT BINAWAN, Ubud

WAJAH gembira terlihat diraut muka Ketum Asprov Bali Ketut Suardana. Disertasi program doktornya didukung penuh oleh promotor Prof. Dr. I Nyoman Dharma Putra.

Saat diwawancarai usai sidang, Ketut Suardana mengatakan jika ilmu khususnya ilmu agama adalah sahabat utama dalam arti sebagai Tuhan itu sendiri.

“Saya mengambil program Doktor Ilmu Agama karena meyakini bahwa ilmu itu adalah sahabat utama manusia.

Disini saya artikan ilmu itu sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Jika kita sudah memiliki ilmu, maka permasalahan yang akan kita hadapi kedepannya pasti ada jalan keluar,” ungkapnya.

Cukup lama Ketut Suardana menempuh program studi Doktor. Mantan Manajer Persegi Gianyar ini mulai menjalani program Doktor pada tahun 2011.

Yang menjadi spesial adalah dia juga menjadi Doktor ke-61 di usianya yang menginjak 61 tahun di tahun ini.

Dia mengaku bahwa cukup lama program Doktor baru terselesaikan karena harus fokus juga dengan berbagai kegiatan mulai dari mengurus bisnisnya termasuk

beberapa kegiatan yang dibuatnya di Ubud seperti Ubud Writers and Readers Festival, termasuk juga dia sebagai Ketum Asprov PSSI Bali.

Disertasi yang dibuat Suardana kali ini dengan tema wisata spiritual di Ubud. “Saya menjalani program Doktor ini dengan skala prioritas.

Saya harus dahulukan mana yang lebih penting agar berjalan seimbang. Maka dari itu manusia juga harus memiliki spiritual yang kuat.

Contohnya pesepakbola jika tidak memiliki spirit dalam latihan dan bertanding, penampilan mereka tidak akan seimbang dan kuat.

Kalau memiliki spiritual yang kuat, akan ada kekuatan yang dahsyat untuk pesepakbola itu sendiri,” tuturnya. (*)

(rb/lit/mus/JPR)

 TOP