Sabtu, 25 May 2019
radarbali
icon featured
Dwipa
Perayaan Paskah di Paroki Santo Petrus Negara

Ribuan Umat Menangis Haru Saat Saksikan Drama Penyaliban Tuhan Yesus

19 April 2019, 18: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

Perayaan Paskah, Umat Katolik, Paroki St.Petrus, hari raya katolik, drama penyaliban,

DRAMA PENYALIBAN : Salah satu adegan drama penyaliban yang digelar umat Katolik saat perayaan Paskah 2019 di Paroki Santo Petrus Negara, Jumat (19/4) (M.Basir)

Ribuan umat Katolik di Gereja Paroki Santo Petrus Negara, Jembrana, Bali, Jumat (19/4) pagi menggelar perayaan Paskah 2019. Selain digelar secara aman dan khusuk, perayaan Paskah juga diwarnai keharuan.

M.BASIR, Negara

Suasana di Gereja Paroki St. Petrus Negara, Jembrana sejak pagi sudah dipadati ribuan umat Katholik.

Ribuan umat berbondong-bondong datang untuk melaksanakan sembahyang dengan para keluarga.

Dengan penjagaan ketat aparat keamanan, perayaan Paskah di Negara pun berjalan lancar  dan khusuk.

Setelah berkumpul di sekitar tempat ibadah, sekitar pukul 07.30 Wita digelar drama Penyaliban yang diperankan Umat Katolik Paroki Santo Petrus Negara.

Meski hanya mengitari halaman dalam Gereja Katolik Paroki Santo Petrus Negara, Drama Penyaliban yang digelar sekitar tiga jam tahun ini menyedot perhatian begitu banyak umat.

Mereka yang hadir untuk menyaksikan drama tersebut tidak hanya dari kalangan umat Katolik tetapi juga umat dari agama lain yang ingin melihat dari dekat drama penyaliban yang digelar secara rutin di Gereja Katolik tersebut.

Bahkan saat adegan penyaliban berlangsung, tak sedikit dari para umat Katolik yang menangis haru. Mereka seolah benar-benar larut mengikuti kisah drama yang diperankan oleh Umat Katolik Paroki Santo Petrus Negara

Dalam kisah yang disuguhkan para pemain, Tuhan Yesus dijatuhi hukuman mati setelah difitnah para imam kepala dan kaum Farisi.

Mereka menuduh Tuhan Yesus sudah menghujat Tuhan.

Tuhan Yesus juga difitnah membuat mukjizat dengan kekuatan setan. Dia dituduh mengusir setan menggunakan kuasa setan.

Itu sebabnya, Tuhan Yesus dibawa ke hadapan Imam Agung Bangsa Yahudi saat itu, Kayafas.

Namun setelah mengetahui Tuhan Yesus berasal dari Galilea, Kayafas menyuruh para prajurit membawa Tuhan Yesus ke hadapan Gubernur Roma yang ditugaskan di Yahudi saat itu, Pontius Pilatus.

Namun Pilatus tidak menemukan kesalahan apa pun pada Tuhan Yesus sehingga ia harus dihukum mati.

Apalagi setelah istrinya Klaudia mengingatkan Pilatus untuk tidak mencampuri urusan intern Bangsa Yahudi. Karena Klaudia melihat Tuhan Yesus sebagai orang saleh yang tidak pantas dihukum mati.

Pilatus akhirnya mencuci tangannya, tanda tidak mau mencampuri urusan intern Bangsa Yahudi dan menyerahkan hukuman atas diri Tuhan Yesus pada Bangsa Yahudi.

Sementara Bangsa Yahudi yang begitu terhasut oleh informasi sesat, akhirnya menyalibkan Yesus setelah menyesah dan menyiksanya.

Tuhan Yesus yang wafat di kayu salib akhirnya dimakamkan dan pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati. Kebangkitan Tuhan Yesus  ini yang dirayakan Umat Kristiani seluruh dunia sebagai Hari Raya Paskah.

“Saat Tuhan Yesus disesah di jalan salib, ribuan umat yang menyaksikan langsung meneteskan air mata. Saya juga ikut meneteskan air mata karena sedih melihat Tuhan menderita sengsara untuk menebus dosa-dosa yang sudah saya perbuat,” ungkap Martinus, seorang Umat Katolik.

Dalam Drama Penyaliban yang diperankan Umat Katolik Paroki Santo Petrus Negara kemarin, Tuhan Yesus diperankan Adi Putra Jaya.

Pontius Pilatus diperankan Hadinoto dan Kayafas oleh Fransiskus Seko. Salah satu peran yang sangat sentral adalah tokoh setan sebagai penggoda manusia dan juga Tuhan Yesus yang diperankan Yohanes Koeat Sugiarto.

(rb/bas/pra/mus/JPR)

 TOP