Kamis, 20 Jun 2019
radarbali
icon featured
Hukum & Kriminal
Ni Made Puspa; Nenek Korban Tabrak Lari

Belanjaan Masih Tergantung di Sepeda, Warga yang Kasian Lemparkan Uang

22 April 2019, 21: 20: 34 WIB | editor : ali mustofa

tabrak lari, nenek tewas, Polres Gianyar, tewas kepala pecah, RSUP Sanglah Denpasar, otak berceceran,

MENGENASKAN : Polisi dan warga saat mengevakuasi jasad Ni Made Puspa di TKP (Istimewa)

Share this      

Kepergian Ni Made Puspa yang tewas diduga karena menjadi korban tabrak lari saat hendak pulang dari pasar benar-benar membuat pihak keluarga terpukul.

Terlebih saat pertama kali ditemukan, jasad nenek 70 tahun ini dalam kondisi mengenaskan dengan kepala pecah dan otak berceceran ke aspal.

IB INDRA PRASETYA, Gianyar

Warga di sekitar Jalan Batuyang, Senin (22/4) pagi buta benar-benar dibuat gempar.

Heboh warga ini menyusul tewasnya salah seorang tetangga mereka Ni Made Puspa, 70. Perempuan renta warga Jalan Batuyang, Gang Bangau II No. 9 Batubulan, Gianyar, ini tewas saat hendak pulang dari pasar.

Selain sepedanya terlempar dan rusak, jasad Puspa juga ditemukan dalam kondisi memprihatinkan.

Terkait musibah yang menimpa Puspa, menantu korban Ni Nengah Lutrini, mengaku jika mertuanya memang biasa bepergian naik sepeda gayung.

“Setiap hari, pagi-pagi ke pasar naik sepeda gayung. Memang sengaja belanja setiap hari, biar dapat olahraga katanya,” ujarnya saat ditemui di rumah duka,

Korban setiap pagi selalu naik sepeda ke pasar Batubulan, di dekat terminal Batubulan.

Saat kejadian kemarin, diduga korban usai berbelanja di pasar dan hendak menuju rumahnya.

Tas kresek belanjaan juga masih tergantung di stang sepeda.

Tanpa ada firasat apapun, tiba-tiba saja pihak keluarga menerima informasi jika korban tertabrak kendaraan tak dikenal di Jalan Batuyang.

“Mertua saya sudah dari 2004 tinggal di sini. Waktu kejadian, ada yang mengenali, lalu kami dikontak. Suami saya langsung mengurus,” jelasnya.

Tubuh korban berceceran darah segar di jalanan. Polisi yang menerima kejadian langsung turun tangan untuk mengumpulkan saksi-saksi dan melangsungkan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di lokasi kejadian.

“Tidak ada CCTV, tidak ada yang melihat. Saya juga tidak tahu persis kejadianya,” jelasn Lutrini sambil menggendong bayi.

Terlebih, di depan lokasi kejadian terdapat toko kosong tidak terurus.

Pihak keluarga mengaku terpukul dengan kejadian tersebut. “Memang biasa kalau habis belanjar di pasar, langsung memasak untuk keluarga di sini. Sehari-hari memang naik sepeda, masih kuat,” jelasnya.

Selanjutnya, jasad korban kini dititipkan sementara di RSUP Sanglah Denpasar. “Karena di rumah sakit Gianyar penuh, makanya di Sanglah,” jelasnya.

Untuk upacara, korban yang asli dari Desa Ngis, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem tersebut akan berembuk dulu dengan keluarga besar.

“Rencananya nanti mau dikremasi di Cekomaria,” tukasnya.

Saat kejadian, korban ditolong oleh warga setempat. Jasad korban sempat dibungkus oleh kain.

Bahkan, saat jasadnya tergeletak sambil menunggu ambulance, banyak warga yang prihatin dan melemparkan uang seiklasnya di jasad korban.

Setelah jasad korban dibawa ke rumah sakit dan sepeda gayung dibawa ke kantor polisi, kondisi lokasi kejadian hingga siang kemarin masih tersisa bekas darah.

Darah yang berceceran di bagian utara jalan itu diuruk menggunakan tanah. 

(rb/pra/dra/mus/JPR)

 TOP