Senin, 09 Dec 2019
radarbali
icon featured
Dwipa

Waspada, Malaria Kembali Serang Klungkung, Diduga dari Nusa Penida

25 April 2019, 05: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

wabah malaria, serang warga klungkung, nusa penida, dinas kesehatan klungkung

Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung saat menebar benih ikan di sejumlah lagoon, Kecamatan Nusa Penida (Istimewa)

Share this      

SEMARAPURA - Setelah Kabupaten Klungkung dinyatakan bebas malaria belasan tahun lalu, kasus malaria kembali lagi terjadi di awal tahun 2019.

Dua orang warga yang sempat berada di Desa Ped, Kecamatan Nusa Penida didiagnosis positif malaria.

Untuk mencegah adanya warga yang terjangkit penyakit ini kembali, berbagai upaya telah dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung.

Salah satunya dengan menebar ratusan ekor benih ikan di sejumlah tempat jentik nyamuk berkembang seperti di laguna atau lagoon yang ada di Desa Ped.

Dua orang warga yang didiagnosa positif malaria, yakni I Kadek Pait Wirawan, 22 asli Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida yang tinggal di Batubulan, Gianyar,

dan I Nengah Sulatra, 42 asal Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem yang bekerja di Desa Ped, Nusa Penida sebagai buruh bangunan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung, Ni Made Adi Swapatni membenarkan perihal tersebut.

Dituturkannya, suhu tubuh Wirawan mulai panas sejak 22 Februari 2019 lalu dan akhirnya dirawat di RS Sanglah pada 26 Februari 2019.

Berdasar riwayat kehidupan sehari-harinya selama sebulan sebelum dinyatakan positif malaria, Wirawan yang merupakan mahasiswa itu hanya bepergian ke wilayah Tabanan dan Nusa Penida yang merupakan kampung halamannya.

“Sehingga diduga, mahasiswa ini terkena malaria di Nusa Penida lantaran tempat yang ia kunjungi tersebut terdapat warga dari sejumlah

daerah endemi malaria. Sementara tempat tinggalnya di Batubulan, seluruh tetangganya merupakan orang Bali,” jelasnya.

Sementara I Nengah Sulatra, selama ini berkerja sebagai buruh bangunan di sebuah villa di Desa Ped, Nusa Penida.

Namun, karena material bangunan habis, sehingga ia kembali pulang ke Desa Bunutan pada 26 Februari 2019.

Pada tanggal 10 Maret, Sulatra kembali ke Desa Ped untuk bekerja sebagai buruh bangunan di tempat yang sama.

Namun, sesampainya di Nusa Penida, suhu tubuh meningkat disertai menggigil dan sakit kepala. Lantaran tidak kunjung sembuh, akhirnya Sulatra memutuskan pulang ke Desa Bunutan pada 13 Maret 2019.

Sebelum sampai ke rumah, Sulatra memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke Puskesmas Abang II namun tim medis

di puskesmas tersebut tidak melakukan anamnesa secara mendalam sehingga tidak diambil darah karena diduga tertular DBD.

Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, baru diketahui jika Sulatra terkena malaria. “Begitu juga Sulatra diduga terkena malaria

di Nusa Penida karena lingkungan kerjanya terdapat sejumlah warga yang berasal dari daerah endemi malaria,” katanya.

Selama dirawat, Sulatra dan Wirawan beserta Desa Ped, Kecamatan Nusa Penida yang diduga sebagai lokasi keduanya terjangkit malaria terus mendapat pengawasan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung.

Bahkan, untuk mencegah terjadinya peristiwa serupa, Dinas Kesehatan Klungkung telah menabur 200 ekor benih ikan yang tersebar di lagoon Bodong, Prapat dan Kutampi, Senin (22/4) lalu.

Ini dilakukan untuk mencegah berkembang biaknya nyamuk penyebar penyakit malaria ini. “Untuk mencegah penyakit ini kembali mewabah,

kami imbau agar warga selalu menjaga kebersihan lingkungan, melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara berkesinambungan, dan segera memeriksakan diri bila mengalami gejala panas,” ujarnya.

Lebih lanjut Swapatni mengungkapkan, kasus malaria pernah terjadi di Klungkung di tahun 2001 silam.

Dan akhirnya sekitar tahun 2004/2005, akhirnya Kabupaten Klungkung dinyatakan bebas malaria. “Setelah galian C ditutup, sangat berdampak pada penurunan kasus malaria,” tandasnya. 

(rb/ayu/mus/JPR)

 TOP