Rabu, 16 Oct 2019
radarbali
icon featured
Travelling
Cu Kawit; Legenda Warung Unik di Nusa Penida

Pintu Ditutup Boleh Digedor, Tak Layani Pembeli yang Makan Di Tempat

29 April 2019, 23: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

warung cu kawit, Pulau Nusa Penida, Wisata kuliner, wisata Nusa Penida, Warung sambal, warung legenda, warung unik,

MELEGENDA : Cu Kawit dengan sambal buatanya yang khas dan terkenal (Wayan Widyantara)

Share this      

Selain wisata tebing dan pantainya yang indah dan eksotik, Nusa Penida juga menawarkan wisata kuliner yang khas dan unik.

Salah satu wisata kuliner yang melegenda dan dimiliki di pulau dengan julukan the Golden Egg of Bali (telur emasnya Bali) ini adalah sambel Cu Kawit. Seperti apa?

WAYAN WIDYANTARA, Nusa Penida

Bagi pencinta kuliner, bila hendak ke Pulau Nusa Penida, wajib mencoba masakan, terutamanya sambel Cukawit. 

Cu kawit, atau dong kawit adalah dagang (warung) nasi yang dikenal menjadi langganan anak muda di Nusa Penida. 

Cu Kawit sudah puluhan tahun membuka warung nasi. Biasanya buka jam 05.00 pagi hingga 17.00 sore. Meski dari pagi sampai sore, warung ini tetap layani kapanpun pembeli datang meski pintu warung sudah ditutup.


“Kalau pintu sudah ditutup, biasanya pintu digedor-gedor. Saya layani pembeli,” ujar Cu Kawit kepada Jawa Pos Radar Bali.

Menariknya, warung ini menjadi satu-satunya warung yang tidak bisa makan di tempat alias hanya bisa di bungkus.

Sedangkan, yang special dari makannya, adalah sambel Cu Kawit. Untuk itu, bila memang kalian pecinta pedas, layak dicoba.

“Sambel biasa. Tidak ada yang rahasia di sambel ini. Biasa aja,” ujarnya merendah.

Warna sambel yang hijau tersebut memiliki khas yang berbeda dengan sambel lainnya. Maka tak heran, warga Denpasar atau pun yang lainnya datang ke Nusa Penida untuk membeli sambel dan menjadikannya oleh-oleh. 

Sambel Cu Kawit memang terkenal di Nusa Penida. Untuk harga, pun lumayan mahal. Harga nasinya mencapai Rp 10 ribu, hampir sama dengan nasi jinggo yang harga Rp 5 ribu.

Menunya, biasanya be awan (pindang awan) dengan mi kering, telur, kacang, saur dan sambalnya yang khas. Meski begitu, warung ini tetap menjadi favorit bagi anak-anak muda di nusa penida khususnya di jam-jam genting.

Dan Kini warung nasi cu kawait ini sudah di wariskan ke generasi keduanya.

“Sekarang saya disebut Cucu Kawit, karena sudah punya cucu,” ujarnya lantas tersenyum.

(rb/ara/pra/mus/JPR)

 TOP