Senin, 17 Jun 2019
radarbali
icon featured
Hiburan & Budaya

Teater Cahaya dan Komunitas Senja Angkat Duka Guru Honorer

21 Mei 2019, 05: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

teater cahaya, komunitas cahaya, duka guru honorer

MENJIWAI: Pementasan teater Sang Guru yang dibawakan Teater Cahaya kolaborasi dengan Komunitas Senja di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Sabtu lalu. (Istimewa)

Share this      

DENPASAR - Teater Cahaya berkolaborasi dengan Komunitas Senja menampilkan teater modern berjudul Sang Guru.

Teater tersebut mengisahkan perjuangan guru yang tetap setia pada profesinya untuk mengabdi sebagai tenaga pengajar meski kehidupannya dirundung kemiskinan.

Pertunjukkan selama kurang lebih satu jam tersebut dihelat di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Sabtu malam (18/5) lalu.

Sang Guru menceritakan tentang salah seorang guru honorer bernama Abdi yang mengajar di salah satu sekolah swasta.

Dia lahir dan besar di tengah-tengah keluarga yang memiliki latar belakang profesi sebagai pengajar.

Selama sepuluh tahun menjadi tenaga pengajar dengan bayaran murah membuat Abdi merasakan derita batin lantaran hidup dalam kondisi miskin.

Namun meski hidup dalam kondisi miskin, Abdi memilih tetap bertahan demi menjaga amanat orang tua dan harga diri.

Tuntutan hidup dan berbagai permasalahan di sekitarnya membuat sang guru mulai gundah pada ideologi yang ia bangun selama ini.

Namun di tengah kegundahannya sang guru mendapatkan kabar untuk mengajar di Malaysia, hingga dengan berat hati ia terpaksa

menerima pekerjaan itu meski dalam hatinya menyimpang perasaan yang amat sedih lantaran harus berpisah dengan keluarga.

Sutradara dan penulis naskah cerita, Komang Adi Wiguna mengaku cukup senang dengan pementasan tersebut karena berjalan lancar.

Terlebih pementasan itu dihadiri langsung Ny Putri Suastini Koster dan salah satu anggota DPR RI dari fraksi PDIP, Rieke Diah Pitaloka.

“Ini tidak terlepas dari semangat teman-teman hingga pementasan ini berjalan lancar,” ujarnya usai pementasan.

Lebih lanjut dia menuturkan, proses yang dilalui hingga pementasan membutuhkan waktu selama dua minggu latihan, sementara proses penulisan naskahnya sendiri memakan waktu selama 1,5 bulan.

“Selama proses persiapan itu kesulitan yang dihadapi adalah waktu latihan, karena beberapa pemain ada yang bekerja dan kuliah, jadi pada waktu latihan pemain tidak lengkap,” jelas pria yang akrab disapa Legu ini.

Sementara itu pesan yang ingin disampaikan dalam pementasan cerita Sang Guru ini bahwa hidup harus memiliki ilmu pengetahuan dan pengalaman.

“Bila kita ingin hidup dengan ideologi kita sendiri ya salah satunya dengan ilmu,” tandasnya. 

(rb/zul/mus/JPR)

 TOP