Rabu, 19 Jun 2019
radarbali
icon featured
Metro Denpasar

Pemuda Legian Sepakat Lawan Proyek RZWP3K yang Ancam Kawasan Pesisir

21 Mei 2019, 13: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

pemuda legian, tambang pasir, pantai legian, pantai canggu, proyek rzwp3k, walhi bali, forbali

Dewan Nasional Walhi Gendo Suardana saat memaparkan rencana penambangan pasir di perairan Legian dan Canggu ke warga Legian (Istimewa)

Share this      

LEGIAN - Sejumlah masyarakat adat di Legian mengaku tidak tahu menahu terkait dengan proyek tambang pasir di wilayahnya.

Hal tersebut terungkap dalam acara Diskusi mengenai RZWP3K yang diinisiasi SOLID (Solidaritas Legian Peduli)
Melalui Yowana Manggala Desa Adat Legian yang membawahi 3 Sekaa Teruna –Teruni yang ada di Desa Adat Legian, diskusi kali ini  dilakukan di Balai Banjar ST. Manggala Sunu Banjar Legian Kaja, Minggu (20/5) lalu.

Acara ini melibatkan WALHI Bali dan ForBALI dan diikuti oleh seluruh anggota sekaa Teruna-Teruni ST. Manggala Sunu,

Banjar Legian Kaja dengan mengangkat tema “Masa Depan Pesisir Legian dalam Rencana Zonasi Wilayah Perairan dan Pulau-Pulau Kecil ”.

Koordinator ForBALI Wayan Gendo Suardana yang sekaligus merupakan Dewan Nasional Walhi dalam diskusi ini memberikan penghantar terkait dengan proyek tambang pasir yang akan dilakukan di seputar wilayah Pantai Legian. 

Sama halnya dengan banjar-banjar di Desa Legian yang lain, Banjar Legian Kaja juga tidak mengetahui bahwa akan ada proyek tambang pasir yang akan dilakukan di Pantai Legian hingga Canggu itu.

Gendo menjelaskan bahwa proyek tersebut juga sudah memiliki izin namun instrumen pengaturannya yang terangkum dalam RZWP3K belum rampung.

“Ini tidak benar, bagaimana bisa RZWP3K belum jadi namun izin proyeknya sudah ada. Mestinya RZWP3K itu dibuat untuk mengatur

proyek-proyek yang akan dilakukan. Bukan proyek yang duluan yang ada dan penyusunan RZWP3K mengikutinya,” ujarnya. 

Gendo kembali menyesalkan bahwa dalam penyusunan RZWP3K ini tidak melibatkan komponen adat atau warga desa yang terdampak.

Padahal, secara aturan komponen desa terdampak tersebut harus dilibatkan. Disamping itu Gendo juga menjelaskan bahwa semestinya

di Desa Adat Legian ini harus dilakukan sosialisasi khusus dan pemerintah memiliki tim khusus untuk mensosialisasikan terkait rencana tambang pasir ini.

Namun faktanya sama tidak ada sosialisasi dari pemerintah atau dinas terkait dalam melakukan sosialisasi penyusunan RZWP3K ini.

Sementara itu, Dewan Daerah Walhi Bali Suriadi Darmoko memaparkan dampak negatif tambang pasir yang memicu kerusakan lingkungan.

Moko juga memberi contoh di sejumlah daerah yang di lakukan tambang pasir pantainya mengalami abrasi.
“Tambang pasir laut yang dilakukan di Banten dan tambang pasir laut di Makassar  menimbulkan dampak negatif di 14 desa sekitar di tempat dilakukannya tambang pasir di Makassar,” sebutnya.

Moko juga menjelaskan bahwasannya sepanjang pantai di selatan Bali mengalami abrasi akibat reklamasi bandara.

Bahkan, ada pura yang bernama Pura Cedok Waru yang sampai mengalami tiga kali pemindahan akibat terkena abrasi yang disebabkan oleh reklamasi Bandara Ngurah Rai pada tahun 1960-an. 

Jadi praktik tambang pasir laut sejauh ini tidak ada yang memberikan dampak baik terlebih Desa Adat Legian selama ini memang dikenal dengan keindahan pantainya sebagai daya tarik wisatawan untuk berkunjung.
Lebih lanjut Gendo kembali menjelaskan bahwa ide tambang pasir yang akan dilakukan di seputar wilayah Pantai Legian hingga Canggu itu tidak masuk akal.

“Bagaimana bisa Legian yang mengandalkan keindahan pantai dan sebagian besar warga pesisir Legian bergantung terhadap

pariwisata pantai Legian itu, justru ide atau gagasan tambang pasir ini dilakukan di Pantai Legian. Ini nggak masuk di logika kami” tegasnya.

Apabila bercermin dari pengalaman tambang pasir yang dilakukan di Banten dan Makassar, maka tambang pasir yang akan dilakukan di wilayah pantai Legian

akan merusak lingkungan dan menyebabkan abrasi di sepanjang pantai Legian sehingga itu akan mengancam keberlangsungan warga pesisir pantai Legian.

Diskusi ini juga dihadiri oleh kelihan suka-duka Banjar Legian Kaja I Made Sada. Sada mengapresiasi apa yang dilakukan oleh SOLID Legian beserta kawan-kawan dari WALHI dan ForBali.

Sementara Sekretaris SOLID Legian I Wayan Satria Prayuda menjelaskan bahwa semua banjar di Desa Adat Legian telah mengikuti diskusi terkait tambang pasir yang akan di lakukan di sepanjang Pantai Legian hingga Canggu.

“Kami telah bersepakat akan melawan proyek RZWP3K yang mengancam pesisir Legian,” imbuhnya. 

(rb/ara/mus/JPR)

 TOP