Rabu, 26 Jun 2019
radarbali
icon featured
Radar Jembrana

Hujan di Jembrana Diluar Prediksi BMKG, Tiga Kali Terjadi Sejak 2004

26 Mei 2019, 09: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

hujan lebat, prediksi bmkg, hujan salah mangsa, bpbd jembrana

Banjir memutus jalur tengkorak usai hujan lebat yang mengguyur Kota Negara Jumat malam lalu (M.Basir/Radar Bali)

Share this      

NEGARA – Hujan lebat yang terjadi pada hari Kamis (23/5), dari sore hingga malam, merupakan hujan di luar prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Hujan yang masuk kategori ekstrem ini hanya terjadi di wilayah Jembrana, terparah di Kecamatan Negara.

Kepala Stasiun Klimatologi Jembrana Bali Rakhmat Prasetia mengatakan, berdasarkan analisa hujan lebat yang disertai angin kencang pada hari Kamis (23/5) lalu, terjadi mulai pukul 15.00 wita, terjadi di wilayah Kota Negara.

Di mana hujan yang tercatat sebesar 129.7 mm/ 3 jam atau termasuk kategori hujan ekstrem.

Sedangkan kecepatan angin tercatat 17 knot dari arah Barat Laut dengan kecepatan angin maksimal 24 knot, berdasar data observasi pukul 17.00 dan 18.00 wita oleh BMKG Stasiun Klimatologi Jembrana.

“Hal ini sesuai dengan release dari BMKG Denpasar sebanyak 4 kali peringatan dini hujan sedang hingga lebat di wilayah Jembrana yang dimulai pukul 14.20 hingga 22.30 wita,” jelasnya.

Menurutnya, akumulasi hujan tercatat hingga Jumat (24/5) pagi pukul 08.00 wita, sebesar 223 mm.

Curah hujan ini merupakan nilai harian terbesar yang pernah tercatat di stasiun klimatologi Jembrana pada bulan Mei, setelah sebelumnya terjadi pada 28 Mei 2004 dan 30 Mei 2011, masing – masing sebesar 203 mm dan 133 mm.  

“Hujan lebat yang diluar prediksi kami,” ujarnya. Dari analisa sementara Stasiun Klimatologi Jembrana, efek lokal perbukitan di Jembrana, membuat konvektif pertumbuhan awan hujan lebih kuat daripada daerah lain.

“Hujan yang terjadi Kamis kemarin hanya di sekitar Jembrana, terparah di wilayah Negara,” ujarnya.

Dari analisis streamline jam 00 UTC terlihat angin dominan dari arah timur namun terdapat pola E (Eddy) di wilayah barat Kalimantan yang membentuk hambatan angin di wilayah Bali dan sekitarnya.

Rahmat menambahkan, berdasarkan sumber Citra Satelit NOAA, kondisi suhu muka laut di selatan wilayah Bali Nusra, sebesar 28,5 - 29,5 C (hangat) yang dapat menambah uap air dan pembentukan awan konvektif (awan hujan).

Terlihat juga dari citra satelit Water Vapour (WV), terdapat tumpukan kandungan uap air di wilayah utara Bali, yang mengindikasikan lapisan atmosfer diatas dalam keadaan basah.

Menurutnya, kondisi atau potensi hujan disertai angin kencang ini diperkirakan masih berpeluang terjadi hingga 2-3 hari ke depan dan tetap waspada

terhadap potensi angin kencang dan gelombang tinggi lebih dari 2 meter di perairan Selat Bali bagian selatan dan Samudera Hindia selatan Bali. 

(rb/bas/mus/JPR)

 TOP