Kamis, 23 Jan 2020
radarbali
icon featured
Hiburan & Budaya
Rastafara Cetamol

Tantangan Berat Usai Telurkan Album Kiri Kanan

27 Mei 2019, 21: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

Rastafara Cetamol, Album Kiri Kanan, musik reggae, Undiksha Singaraja, launching album,

SEMARAK : Aksi panggung Rastafara Cetamol di halaman Kampus Undiksha Singaraja, minggu (26/5) (Wayan Widyantara)

Share this      

SINGARAJA - Impian band bergenre reggae dari Buleleng, Rastafara Cetamol (R/C) untuk memiliki sebuah album akhirnya benar-benar terwujud.

Minggu (26/5) malam, mereka resmi melaunching album pertama mereka bertajuk Kiri Kanan di halaman kampus Undiksha, Singaraja. 

Ratusan pasang mata pun menjadi saksi peluncuran album dari band yang berdiri tahun 2014 lalu.

Mengusung konsep panggung yang sederhana dan diisi oleh beragam acara, seperti live mural dari komunitas Scooter Komunitas Secret, theater mahasiswa Undiksa dan booth dari Manik Bumi Foundation. 

Acara juga menjadi lebih menarik, sebab R/C sekaligus melaunching video klip di lagu Kiri Kanan yang digarap oleh sutradara ternama, Erick Est. Uniknya, peluncuran video klip tersebut dilakukan melalui layar besar dan manual, layaknya layar tancap. 

Dalam album R/C yang digawangi oleh Wira (pemain Conga), Wilasa (Vokalis /Gitar), Angga (Lead Gitar), Donat (Bass), Wahyu (Drum), Leo (Keyboard) dan Patet ( Tamborin /vokal) memiliki 7 lagu terbaiknya.

Yakni, Kiri Kanan, Sobat, Polusi Hati, Uyeng-uyengan, Besi Tua, Aku Ingin Wisuda dan Baliku. “Semoga album ini dapat diterima oleh publik secara luas,” ujar sang vocalis dari panggungnya.

Album Kiri Kanan yang diproduseri oleh Manik Bumi Foundation, semoga organisasi yang fokus terhadap isu lingkungan ini pun diharapkan menjadi warna baru di dunia permusikan, khususnya bagi para pecinta musik reggae.

Sementara itu, I Wayan Gendo Suardana selaku manajer dari R/C mengungkapkan, ke depan tantangan justru lebih besar dari proses pembuatan album ini.

“Ini adalah awal. Tantangan ke depan, mereka mesti kompak. Apalagi, para personil ini ada yang tinggal di Denpasar dan juga di Buleleng,” ungkapnya.

Gendo juga menyinggung, Buleleng memiliki banyak musisi bertalenta. Hanya memang kerungan akses. Untuk itu, R/C dengan dukungan berbagai jaringan, ingin membuktikan diri, bahwa R/C dapat menjadi kebanggaan masyarakat Bali.

Di sisi lain, Erick Est meminta para personil R/C ini tidak menjadi musisi yang sombong. “Tetap low profil. Jangan pernah berpuas diri, dan terus berkreativitas,” harap sutradara yang sering menggarap video klip lagu-lagu Superman Is Dead, Navicula dan lainnya.

Dalam peluncuran album perdana R/C kemarin juga didukung oleh Gamasera (komunitas Himpunan Mahasiswa Seni Rupa Undiksha), juga dimeriahkan oleh band pendukung lainnya. Seperti Aprecenta, NoEgo, Duq Belas Malam, Last Year dan Bandito Squad serta ditutup dengan penampilan Rastafara Cetamol.

Dipenampilan terakhir, R/C feat dengan Wahyu Metal di lagu Baliku. Ini menjadi menarik, karena lagu Baliku jadi terasa menyayat dengan sentuhan melodi musik rock. 

(rb/ara/pra/mus/JPR)

 TOP